Kamis, 01 Desember 2016

Mengenal Lebih Dekat Suku Baduy



Mengenal Lebih Dekat Suku Baduy 



Hari sabtu pagi, tanggal 10 September. Saya dan teman-teman dari Backpacker Jakarta pergi ke Banten, lebih tepatnya kami akan mengunjungi  Suku Kanekes atau biasa disebut Suku Baduy.  Siapa yang nggak kenal Suku Baduy, salah satu suku di Indonesia yang berada disebelah Barat pulau Jawa ini sangat terkenal.
Kami berangkat dari Stasiun Tanah Abang jam sembilan menuju Stasiun Rangkas Bitung, Banten. Perjalanan kami tempuh tidak lama, kurang lebih dua jam. Sesampainya di Stasiun Rangkas Bitung. Kami langsung ke Terminal yang berada nggak jauh dari Stasiun. Setelah makan siang kami berangkat menuju Baduy menggunakan Mobil Elf yang kami sewa.
Perjalanan kami tempuh sekitar dua jaman lebh. Perjalanannya cukup seru karena memasuki jalan yang kanan kirinya masih banyak pepohonan dan jalannya cukup berliku, turun naik. Sepanjang jalan hujan turun. Kami agak sedikit risau nih. Karena setelah sampai nanti kami akan melakukan Trekking sekitar dua jaman lebih.
Syukurlah, setelah sampai di pintu masuk Baduy luar sore dan hujan pun reda. Kami sempat beres-beres sebentar sambil menunggu datangnya Guide kami. Ada dua Guide kami yang mereka memang asli orang Baduy. Pertama ada Kang Mul, masih muda, umurnya sekitar 18 tahun dan dia berasal dari Suku Baduy Luar dan juga ada Bapak Nalim yang berasal dari Baduy Dalam yang nanti rumahnya akan menjadi tempat bermalam kami.
Oh ya, Baduy Luar dan Baduy Dalam itu berbeda loh.  Perbedaanya bisa terlihat dari pakaian yang dikenakan Suku Baduy Luar berwarna Hitam dengan ikat kepala putih dan Baduy Luar itu sudah tidak sepenuhnya mengikuti peraturan adat contohnya mereka sudah menggunakan listrik dan yang nampak jelas adalah banyak yang sudah berpakain seperti kita (memakai kaos, sandal dan semacamnya) dan jangan salah Kang Mus itu aktif loh di Sosial Media  coba aja kepoin Ignya @mulyono_nasinah. Jadi selama masih dilingkungan Suku Baduy Luar kita masih boleh menggunakan Handphone dan mengambil gambar disana.
Sedangkan untuk Suku Baduy Dalam untuk pakaian yang dikenakannya berwarna putih dengan ikat kepala putih. Tidak beralas kaki dan masih menjunjung tinggi peraturan dan hukum adat. Mereka tidak menggunakan listrik dan peralatan elektronik. Jadi jika kita masuk ke area Suku Baduy Dalam kita tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat elektronik, Handphone, menyalakan lampu ataupun menggunakan bahan-bahan kimia ketika mandi disungai seperti sabun, shampo dan odol. Jadi kita tidak bisa mengambil gambar atau video disana. Dan juga ada beberapa peraturan adat yang harus kita hormati dan jalankan ketika berada disana.
Sekitar jam lima sore kami tiba di pemukiman Suku Baduy Dalam. Pemukiman yang sangat sederhana dengan bangunan-bangunannya yang khas. Kami akan bermalam dikediaman Bapak Nalim. Setelah rapih-rapih saya dan beberapa teman yang lain pergi ke sungai yang berada tidak jauh  untuk mandi.
Sebelum berangkat kami diberitahu agar tidak melewati salah satu rumah, rumah tersebut adalah rumah Kepala Suku atau Kepala adat. Karena sudah mendapat himbauan seperti itu kami harus mematuhinya, meskipun sebenarnya jalan menuju sungai itu tidak melewati rumah tersebut. Sesampainya di sungai, sungai terlihat masih bersih dan tidak nampak limbah atau sampah plastik dan sejenisnya. Sungainya mengalir lancar dan tidak dalam. Mandi disungai itu sangat menyegarkan. Dan seperti yang sudah dijelaskan, kami mandi tidak menggunakan sabun, shampo ataupun odol. Kami sikat gigi, hanya menggunakan sikat saja.
Mandi di alam terbuka. Awalnya perasaan saya cemas karena benar-benar mandi di sungai, di luar ruangan, di alam terbuka dan di atas sungai itu terhubung jembatan bambu dan sering penduduk sana lalu lalang, baik Pria maupun Wanita. Ada perasaan malu tetapi untuk sementara, rasa malu itu disimpan dulu, jarang-jarang kan mandi disungai alaala begini Hehe
            Oh ya, kalau malam katanya di sekitaran sungai ini banyak ditemui kawanan kunang-kunang loh. Hmm, saya akan buktikan nanti malam. Karena seumur-umur saya belum pernah melihat kunang-kunang, serangga yang bisa menyala itu. Hiks, menyedihkan sekali.
                                                                                   ***
Sehabis makan malam, saya mengajak seorang teman untuk melihat kunang-kunang di sungai, lebih tepatnya memaksa sih. Waktu itu sedang gerimis memang, jadi banyak teman-teman yang mager (males gerak). Tetapi dia saya paksa dan akhirnya tetap jalan. Tidak disangka, akhirnya saya bertemu dengan Kunang-Kunang yang dirindukan. Karena salah satu tujuan saya mengunjungi Suku Baduy adalah ingin melihat Si Serangga Menyala itu. Satu persatu serangga muncul. Dari kejauhan sudah terlihat nyalanya. Diatas sungai serangga-serangga tersebut terbang dengan membawa terang. Luar biasa..
Ada yang bilang kalau sedang gerimis Kunang-Kunang tidak banyak datang. Tetapi cukuplah bagi saya melihat beberapa Kunang-Kunang disini. Tidak terlalu banyak memang. Tetapi sudah bisa membuat hati saya senang bukan kepalang. Apalagi ketika satu persatu Kunang-Kunang tersebut melintas dihadapan saya tanpa permisi sebelumnya. Menakjubkan sekali. Saya secara spontan berteriak saking kagumnya. Kawan saya itu hanya meledak saya dan bilang saya gila dan norak. Terserahlah, pikir saya.
Dia boleh bilang seperti itu karena di desanya, disekitaran Jawa Timur masih bisa melihat Kunang-Kunang dan cukup sering melihatnya pada masa Kanak-kanak dulu. Sedangkan saya, tinggal di pinggiran ibu kota yang penuh dengan asap pabrik. Mana pernah saya melihat serangga macam itu secara langsung. Di TV atau Majalah iya pernah.
Rasanya saya ingin bawa pulang tuh Kunang-Kunang. Di masukkan kedalam Toples kaca bening dan biarkan dia menyala didalam sana. Tapi rasanya itu nggak mungkin. Hehe
Padahal saya ingin berlama-lama menikmati para Serangga yang menyala tersebut. Tapi temanku sudah memaksa ingin kembali. Ya sudahlah, saya sudah cukup puas kok.
***
Sehabis shalat isya, kami menggelar Diskusi ringan dengan Kang Mulyono dan Bapak Nalim. mereka akan menjelaskan tentang Suku Baduy dan bagi yang ingin bertanya dipersilahkan. Bapak Nalim tinggal bersama dengan istrinya dan seorang anak perempuannya yang sudah remaja, mungkin sekitar SMP dan juga anak laki-lakinya yang masih balita.
 Warga Suku Baduy, baik Baduy Luar dan Dalam itu tidak mengenyam pendidikan formal seperti sekolah. Begitupun dengan Kang Mul. Untuk Baduy Dalam sendiri, pendidikan itu didapat dari orang Suku Baduy Dalam tersebut, semacam belajar tentang kehidupan sehari-hari disana dari orang dewasa jadi mereka banyak yang tidak bisa membaca dan menulis.
Sedangkan untuk Suku Baduy Luar dia lebih flexible jadi walaupun tidak bersekolah tetapi masih bisa belajar dari luar semacam belajar membaca atau menulis dari pihak luar atau lembaga yang banyak berkunjung. Seperti Kang Mul itu yang masih sangat semangat untuk belajar dan menerima sumbangan buku-buku dari kalian.
Untuk kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh suku Baduy adalah Sunda Wiwitan, mereka sangat menghormati Dewi Sri atau Dewi Padi sebagai lambang kemakmuran atau Rezeki.  Tetapi untuk Baduy Luar mereka sudah banyak menganut agama lain seperti Islam dan Kristen. Untuk Baduy Dalam mereka masih menjunjung tinggi keyakinan mereka.
Dan untuk wisatawan pun dilarang melewati beberapa area yang diyakini sebagai tempat yang disakralkan. Karena pada waktu itu ketika saya dan teman saya hendak pergi buang air disungai, kami tidak sengaja, hampir melewati area tersebut dan buru-buru dicegah oleh Bapak dari Suku Baduy Dalam. Beliau bilang, kalau kami tidak boleh melintasi area tersebut karena itu merupakan area Tuhan. Kami dianjurkan untuk melewati jalan lain. Kami segera meminta maaf  dan pergi ke sungai lewat jalan lain.
Suasana malam di Baduy Dalam benar-benar gelap. Penduduknya hanya menggunakan lampu tempel sebagai alat penerang. Untuk itu senter sangat membantu aktifitas kami ketika keluar hendak buang air atau pun yang lain. Senter masih diperbolehkan kok. Pada saat itu wisatawan lokal yang datang tidak hanya kami. Ada beberapa rombongan yang menginap juga di Baduy Dalam. Oh ya, warga Baduy Dalam juga ada yang berjualan makanan juga dirumahnya ada juga yang menjual aksesoris, kain, ataupun kaos.
***
Pagi harinya, selepas sarapan kami langsung pamit. Dan tidak lupa mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada keluarga Pak Nalim yang ramah dan rela direpotkan oleh kami. Untuk pulang, kami kembali harus Trekking. Dan perjalanan akan memakan waktu sekitar lima jam. Lebih lama dari sebelumnya, karena kami melewati jalur yang berbeda dari sebelumnya. Tetapi semua itu terbayar lunas oleh pemandangan yang disajikan disepanjang jalan. Kami melewati hutan yang rindang, juga ada ladang. Banyak terdapat jembatan bambu disana. Sungai-sungai mengalir dan bersih bebas dari limbah.
Kami juga melihat rumah-rumah adat dan juga lumbung-lumbung padi yang indah yang jarang kami lihat. Kang Mul dan Pak Nalim masih menemani kami menuju pulang. Kami akan singgah dikediaman Kang Mul untuk makan siang dan beristirahat sejenak. Selesai makan siang dan beristirahat kami langsung mengambil foto karena sudah memasuki wilayah Baduy Luar jadi kami diperbolehkan menggunakan Handphone. Disepanjang jalan kami berfoto, banyak object yang bagus dan layak untuk diabadikan. Sungai yang bersih banyak sekali ditemukan disini, Jembatan bambu, rumah-rumah adat. Pohon-pohon yang rindang. Trek yang panjang berliku karena menaiki bukit.
Saya juga melihat deretan pohon Jengkol dan ini pertama kalinya saya melihat pohon Jengkol dan buah Jengkol yang masih bergelantung. Jengkol salah satu makanan yang tersohor dan fenomenal di Jakarta dan sekitarnya. Salah satu makanan favorite saya, bisa nambah saya kalau makan dengan lauk Jengkol hehe.  Walaupun terkenal dengan aroma yang kurang sedapnya, tetapi tetap saja Jengkol itu banyak yang suka.
Saya juga melihat pohon Enau atau Aren. Pohon yang menghasilkan gula aren, minuman Tuak juga buah atep atau kolang-kaling. Pohonnya yang besar biasa disebut dengan Mayang terurai karena jika berbuah pohon tersebut menjuntai seperti rantai dan banyak buahnya seperti mayang terurai. Ini juga pertama kalinya saya melihat pohon tersebut. Seperti biasa, saya hanya pernah lihat pohon itu di TV. Dan kolang-kaling merupakan makanan favorite saya, apalagi pas Ramadhan dan Lebaran. Sebagai campuran Kolak, Es Campur atau pun Manisan. Hmm... yummy.
***
Sekitar jam satu siang kami sampai di Desa Ciboleger. Desa yang merupakan pintu gerbang menuju Pemukiman Suku Baduy. Setelah bersih-bersih kami langsung bergegas pulang menuju Terminal Ciboleger menuju Stasiun Rangkas Bitung dan kembali ke Jakarta.
Banyak pelajaran yang saya dapat dari perjalanan saya kali ini. kesederhanaan adalah kuncinya. Raut wajah bahagia jelas terpancar dari mereka. Kecintaan pada alam dengan merawat dan menjaganya sebaik mungkin membuat saya berpikir dan malu.
Mereka yang tidak mengenyam pendidikan di sekolah lebih memahami bagaimana menjaga alam. Menjaga keseimbangan ekosistem. Menjaga apa yang harus dijaga, Merawat pemberian Tuhan dengan sebaik mungkin. Sangat berbanding terbalik dengan kami. Kami yang tinggal di kota. Kesadaran akan merawat alam, lingkungan masih kurang.
Semoga perjalanan ini akan membuat saya menjadi pribadi yang lebih peduli lagi terhadap lingkungan dan alam sekitar.



Sabtu, 24 September 2016

Perkenalan Hosting dan Domain bersama PT Qwords Company International

Perkenalan Hosting dan Domain bersama PT Qwords Company International


Sabtu lalu, tepatnya 3 September 2016 kami dari KUBBU (Klub Blog dan Buku) Backpacker Jakarta mengadakan Meet Up kembali. Kali ini Special karena kami dapat undangan dari PT Qwords Company International untuk sharing ilmu, masih mengenai dunia Blogging, yang kali ini mengangkat topik Hosting dan Domain yang merupakan pengetahuan dasar dalam dunia Blogging.

Lokasinya sendiri bertempat di kantor PT Qwords Company International yang beralamat di Gedung Cyber I Lantai 3 Jalan Kuningan Barat No.8 Jakarta Selatan. Kenapa pertemuan kali ini bisa dibilang special? Karena Pak Ketu aka Dede Ruslan aka Derus dan kami tidak perlu repot-repot mencari tempat, mencari narasumber dan lain sebagainya. Semua itu sudah disiapkan oleh PT Qwords Company International. Kami semua hanya bawa badan dan semangat belajar.

Rekan-rekan dari PT Qwords Company International menjamu kami dengan hangat. Segala keperluan yang diperlukan untuk menunjang penyampaian materipun tersedia, dari ruangan yang kondusif, infocus, hingga snacks dan berbagai minuman tersedia sudah.

Yang akan membawakan materi ini adalah Mas Syafiq Muhammad, Staf IT dari PT Qwords Company International. Pria muda berkaca mata ini cukup terampil membawakan materi kepada kami yang lapar ilmu dan banyak nanya :))

Oh ya members yang datangpun cukup banyak dipertemuan ini. Kursi yang tersedia terisi penuh. Dari materi yang disampaikan Mas Syafiq, saya sedikit banyak paham mengenai Hosting dan Domain. Sederhananya adalah Hosting itu tempat, wadah atau rumah untuk menyimpan data-data di situs kita baik website, blog dsb. Hosting bisa didapat secara cuma-cuma atau gratis dan juga ada yang berbayar alias beli. Kita tinggal pilih yang mana bebas.

Untuk Domain itu sendiri saya bisa simpulkan bahwa Domain adalah nama situs kita di dunia internet. Nama situs ini unik, special yang hanya satu di dunia. Jadi tidak ada yang sama, dan dua di dunia. Domain bisa dibilang adalah identitas kita di internet. Atau semacam KTP kalau di dunia nyata.

Mungkin itu yang sudah saya dapat dari pertemuan kali ini. Sedikit banyak sudah membantu meningkatkan pemahaman saya tentang dunia Blogging, terlebih mengenai Hosting dan Domain.
Sebenarnya Pembicara tidak hanya Mas Syafiq tetapi masih ada satu lagi pembicaranya (saya lupa namanya :p) tetapi saya izin pamit duluan karena sudah ada janji dengan teman selepas Ashar.

Kurang dan lebihnya saya mengucapkan terimakasih banyak untuk PT Qwords Company International yang sudah memberikan kesempatan kepada kami semua untuk sharing ilmunya mengenai dunia Blogging. Dan juga untuk ketua kami Dede Ruslan aka Derus yang total dan luar biasa dalam membangun KUBBU kelebih baik lagi dan tak penah lelah mengingati kami semua untuk tetap menulis atau ngeBlog.

Juga tak ketinggalan para Members KUBBU yang luar biasa dan semangat dalam mengais ilmu juga menulis. Kalian semua luar biasa.

Bekasi Kala Senja, 24/09/16


Perkenalan Hosting dan Domain bersama PT Qwords Company International

Perkenalan Hosting dan Domain bersama PT Qwords Company International


Sabtu lalu, tepatnya 3 September 2016 kami dari KUBBU (Klub Blog dan Bukku) Backpacker Jakarta mengadakan Meet Up kembali. Kali ini Special karena kami dapat undangan dari PT Qwords Company International untuk sharing ilmu masih mengenai dunia Blogging, yang kali ini mengangkat topik Hosting dan Domain yang merupakan pengetahuan dasar dalam dunia Blogging.

Lokasinya sendiri bertempat di kantor PT Qwords Company International yang beralamt di Gedung Cyber I Lantai 3 Jalan Kuningan Barat No.8 Jakarta Selatan. Kenapa pertemuan kali ini bisa dibilang special? Karena Pak Ketu aka Dede Ruslan aka Derus dan kami tidak perlu repot-repot mencari tempat, mencari narasumber dan lain sebagainya. Semua itu sudah disiapkan oleh PT Qwords Company International. Kami semua hanya bawa badan dan semangat belajar.

Rekan-rekan dari PT Qwords Company International menjamu kami dengan hangat. Segala keperluan yang diperlukan untuk menunjang penyampaian materipun tersedia, dari ruangan yang kondusif, infocus, hingga snacks dan berbagai minuman tersedia sudah.

Yang akan membawakan materi ini adalah Mas Syafiq Muhammad, Staf IT dari PT Qwords Company International. Pria muda berkaca mata ini cukup terampil membawakan materi kepada kami yang lapar ilmu dan banyak nanya :))

Oh ya members yang datangpun cukup banyak dipertemuan ini. Kursi yang tersedia terisi penuh. Dari materi yang disampaikan Mas Syafiq, saya sedikit banyak paham mengenai Hosting dan Domain. Sederhananya adalah Hosting itu tempat, wadah atau rumah untuk menyimpan data-data di situs kita baik website, blog dsb. Hosting bisa didapat secara cuma-cuma atau gratis dan juga ada yang berbayar alias beli. Kita tinggal pilih yang mana bebas.

Untuk Domain itu sendiri saya bisa simpulkan bahwa Domain adalah nama situs kita di dunia internet. Nama situs ini unik, special yang hanya satu di dunia. Jadi tidak ada yang sama, dan dua di dunia. Domain bisa dibilang adalah identitas kita di internet. Atau semacam KTP kalau di dunia nyata.

Mungkin itu yang sudah saya dapat dari pertemuan kali ini. Sedikit banyak sudah membantu meningkatkan pemahaman saya tentang dunia Blogging, terlebih mengenai Hosting dan Domain.
Sebenarnya Pembicara tidak hanya Mas Syafiq tetapi masih ada satu lagi pembicaranya (saya lupa namanya :p) tetapi saya izin pamit duluan karena sudah ada janji dengan teman selepas Ashar.

Kurang dan lebihnya saya mengucapkan terimakasih banyak untuk PT Qwords Company International yang sudah memberikan kesempatan kepada kami semua untuk sharing ilmunya mengenai dunia Blogging. Dan juga untuk ketua kami Dede Ruslan aka Derus yang total dan luar biasa dalam membangun KUBBU kelebih baik lagi dan tak penah lelah mengingati kami semua untuk tetap menulis atau ngeBlog.

Juga tak ketinggalan para Members KUBBU yang luar biasa dan semangat dalam mengais ilmu juga menulis. Kalian semua luar biasa.

Bekasi Kala Senja, 24/09/16


Minggu, 28 Agustus 2016

Kopdar KUBBU bersama Ipeh Alena



Kopdar KUBBU bersama Ipeh Alena




Hari minggu tanggal 31 Juli 2016 lalu kami mengadakan Kopdar bulanan yang ke tiga di salah satu kedai kopi di Bekasi, yaitu @ngopiisme.  KUBBU (Klub Blog dan Buku) yang merupakan klub hobi dari komunitas Backpacker Jakarta.  Agak telat sih saya memposting tulisan ini, tak apalah, pikir saya daripada tidak sama sekali :D
Oh iya, agenda rutin bulanan ini  sudah tiga kali diadakan. Dan bulan ini merupakan pertemuan terbanyak yang didatangi para member.
Untuk meet up kali ini tema yang dibawakan mengenai dunia Blog, ‘How to start blogging’. Pembicaranya adalah Mba Ipeh Alena yang merupakan seorang blogger dari Bekasi. Di sini akan di ulas mengenai dunia blog, dari A-Z. Berhubung saya adalah pemula dalam dunia perblogan, dan ini merupakan kesempatan saya untuk mempelajari lagi lebih jauh dunia tersebut.

Acara di mulai setelah zuhur jam 1 siang waktu Bekasi. Member yang datang sudah cukup banyak, dan sepanjang waktu berjalan, satu per satu memberpun masih ada yang datang. Kedai yang bergaya minimalis ini pun hampir terisi penuh oleh member Kubbu.
Cuaca panas di luar tak menyurutkan semakin kami dalam belajar. Pegawai yang belerja di sini pun ramah dan telaten melayani kami yang masih mengorder menu di tengah materi yang disampaikan mba Ippeh. Cara penyampainnya pun sangat menarik dan dua arah jadi kami seperti sedang saling ngobrol cantik.




Mba Ipeh menerangkan materi dengan jelas, gamblang juga mudah di cerna, apalagi untuk pemula seperti saya.
Dari yang disampaikan Mba Ipeh saya dapat menangkap beberapa poin dasar dalam memulai ngeBlog di pertemuan ini,  diantaranya adalah
  1. Sebelum ngeBlog kita harus membuat alasan kenapa ingin ngeBlog dan apa yang ingin dicapai pada saat ngeBlog.
  2. Berkomitmen dalam menjalaninya dan juga serius
  3. Coba untuk menulis hal-hal yang kita senangi
  4. Tidak perlu takut blog kita tidak di baca orang lain  atau tidak di komen, nulis nulis aja, karena suatu saat nanti kita akan memiliki pembaca sendiri di blog kita.

Itulah empat dasar poin yang berhasil saya tangkap dari pertemuan ini. sebenarnya masih banyak poin-poin penting yang disampaikan Mba Ipeh. Untuk lebih lengkapnya lagi saya akan membuat tulisan tersendiri mengenai poin-poin tersebut agar lebih rinci.

Oh iya, mengenai tempat meet up  kali ini. Kedai @ngopiisme menyajikan menu all about Coffee dari berbagai daerah di Indonesia. Pas banget buat kalian yang cinta dengan minuman penyemangat ini sambil nongkrong bareng temen atau berdiskusi santai bareng komunitas.


 



Berburu Sunrise di Gunung Ciremai Via Jalur Apuy



Berburu Sunrise di Gunung Ciremai Via Jalur Apuy



Minggu lalu aku naik gunung kembali. Dan kali ini adalah Gunung Ciremai yang merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl. Bagi seorang pendaki pemua sepertiku, menanjak Gunung tertinggi di Jawa Barat ini sungguh merupakan pengalaman yang membanggakan. Aku anggap ini adalah Challenge. Perasaan senang, takut dan cemas campur jadi satu. Aku berusaha mempersiapkan semuanya dengan matang. Dari perlengkapan, fisik hingga mental. Karena aku tahu bahwa naik gunung itu tidak mudah. Sangat melahkan. Menguras tenaga serta emosi.
Sebulan sebelum berangkat aku melatih fisikku. Kuakui bahwa latihan fisik yang kulakukan masih kurang maksimal. Aku hanya melakukan angkat barbel, banyak-banyak berjalan kaki dan juga naik turun tangga dari lantai satu ke lantai dua puluh dua karena kantorku ada di lantai tersebut. Aku naik gunung bersama teman-teman Komunitas Backpacker Jakarta. Jumlah yang ikut ada dua puluh tujuh peserta. Kami berangkat hari Jumat jam setengah sebelas malam dari Base Camp kami yang berada di samping Rumah Sakit UKI dan baru sampai sekitar jam tiga dini hari di stasiun Maja,  Majalengka. Jalur nanjak yang akan kami tempuh melalui jalur Apuy. Jalur terpendek dibandingkan jalur lain seperti Jalur linggar Jati dan Jalur Palutungan.

Setelah sampai kami berangkat kembali menaiki mobil pick up menuju lokasi. Sebelumnya kami membeli bekal Air mineral 1500 ml. Setiap orang harus membawa minimal dua botol. Di sana minim mata air. Untuk antisipasi kami semua harus sedia air minum. Berat beban kami jelas bertambah. Ditambah lagi aku membawa tenda isi empat orang. Berhubung Carrierku sudah penuh, alhasil aku tenteng tendanya. Lumayan berat dan merepotkan.
                Kami harus melewati jalan yang panjang lagi berliku dalam gelap dan udara dingin khas pegunungan. Dalam perjalanan kami cukup menikmati. Disepanjang jalan, mobil terus bergoyang-goyang membuat kami sedikit takut campur senang. Perjalanan memakan waktu setengah jam kurang lebih. Jalur nanjak yang kami tempuh melaluip jalur Apuy.
                Jam enam kurang kami sampai. Setelah shalat shubuh, beres-beres serta sarapan pagi. Kami berkumpul untuk Briefing dan perkenalan singkat. Jam setengah sembilan kami mulai menanjak. Jalur apuy, jalur yang tidak banyak dilaluli pendaki. Pada saat pendakian berasa kami semua sedang study tour karena grup kami banyak sekali anggotanya. Dan didominasi oleh PPC (Para Pendaki Cantik) warbyasah..


Kami harus mendaki dengan track yang masih biasa saja di awalnya. Karena menurut informasi, jalur Apuy memiliki track yang lebih mudah dibandingkan track lainnya. Untuk menuju Pos 1 kami tidak menemukan kendala yang berarti. Oh iya, jumlah pos yang ada berjumlah 5. Kami baru mulai menemukan kendala dari perjalanan menuju Pos 2. Selain bertemu track yang mulai menanjak dan lumayan jauh untuk mencapai Pos 2.


Bersyukur hari ini sedang tidak hujan. Padahal di Jakarta sudah hampir dua hari hujan terus yang membuat kami sempat khawatir. Aku dan beberapa teman jalan lebih awal. Ketua dalam grup kami jalan di belakang bersama PPC yang mulai lelah. Perjalanan menuju Pos 2 sungguh melelahkan dan menjemukan. Disamping track yang menanjak dan agak sulit ditambah lagi kami merasa tidak sampai-sampai menemukan Pos 2, padahal kami sudah berjalan cukup jauh. Sungguh meletihkan sekali perjalanan kami menuju Pos 2. Di sana sudah terpasang papan pertanda dari Pos 1 – 5 dan petunjuk lainnya yang memudahkan para pendaki.
                Sesampainya di pos 2 tepat jam makan siang. Sambil menunggu yang lain, kami menyiapkan makan siang bersama. Udara semakin lama semakin dingin. Ada sekitar sepuluh orang yang sampai dan kami segera membuka perlengkapan memasak untuk masak mie instan dan kopi. Kami juga membuka bekal masing-masing dan saling berbagi. Nikmat sekali menyantap makanan dikala lapar diselingi saling berbagi dalam kebersamaan. 


                Tidak lama kemudian yang lainpun berdatangan. Hampir satu jam kami beristirahat. Karena hari sudah siang, aku dan teman-teman yang membawa tenda berjalan lebih awal agar sesampainya di pos 5 (lokasi kami akan ngeCamp) kami bisa segera mendirikan tenda. Track menuju ke Pos 2 sampai 5 terasa lebih menanjak dan menantang. Track yang sempit dan curam ditambah bekas sisa hujan yang membuat becek dan genangan menambah perjuangan kami. Beberapa kali aku terbantu oleh akar-akaran pohon yang menjuntai pada saat melewati track yang curam dan licin.
                Perjalanan kami menuju Pos 5 serasa singkat walau berat. Tracknya tidak terlalu panjang seperti pada saat jalan menuju ke pos 2.  Jam setengah tiga sore kami sudah sampai dan segera mendirikan tenda. Kami semua akan bermalam di sini. Beberapa pendaki sudah lebih dulu mendirikan tenda di sini. Dini hari nanti kami akan melanjutkan perjalanan menuju Summit. Jam tiga pagi kami berangkat karena kami akan berburu Sunrise. Estimasi kami, setengah enam pagi kami sudah sampai.

                Tidak membutuhkan lama untuk mendirikan tenda. Dan ini adalah kali pertama aku mendirikan tenda, tidak sesulit yang aku bayangkan ternyata. Aku satu tenda dengan seorang teman dari Bogor. Selesai tenda berdiri, kami langsung masuk tenda dan beres-beres. Istirahat sejenak sambil menunggu yang lain datang. Untuk sebagian teman ada yang asik berHammockan ria sambil mengobrol.


                Sekitar jam setengah enam hujan turun. Kami semua masuk ke dalam tenda masing-masing. Aku dan Yoni, memanfaatkan kesempatan ini untuk istirahat sampai hujan reda. Kami berharap hujan ini tidak lama agar nanti pagi kami bisa nanjak menuju puncak. Jam tujuh hujan pun reda. Kami semua berkumpul di satu tenda yang sudah kami rancang sedemikian rupa agar bisa menampung banyak orang. Kami saling berkumpul sambil masak makanan untuk makan malam.
                Di sela itu kami saling memperkenalkan diri karena masih ada sebagian dari kami yang belum kenal. Malam yang penuh dengan kebersamaan. Kebersamaan kami mampu menghangatkan udara dingin malam itu. Sehabis makan malam dan berbincang-bincang, kami segera masuk ke tenda masing-masing untuk istirahat. Tidak lupa kami membereskan bekas makan kami dan memasukkannya ke dalam tenda. Karena pada saat itu salah satu teman kami melihat ada beberapa babi hutan berkeliaran di sekitar tenda kami. Kami takut kawanan babi tersebut mengacak-ngacak peralatan masak kami atau pun mengganggu kami. Oleh karena itu, kondisi di setiap tenda harus terang agar terhindar dari gangguan babi

                Malam itu hujan reda. Hawa dinginnya berasa menusuk hingga ke tulang. Padahal sleeping bag sudah membungkus tubuh. Rasa kantuk sudah menggelayuti kami dan kami pun segera tertidur.
Sebagian dari pendaki lain masih berada di luar menikmati api unggun sambil bergitaran dan bernyanyi. Ketika aku sudah berada di tenda dan terlelap mesra dalam mimpi. Aku dan temanku terbangun karena terganggu oleh keributan di luar. Kami terdiam saling tatap. Pendengaranku yang masih kabur karena masih setengah tidur menangkap kata “Babi..” tidak membutuhkan waktu untuk aku dan temanku tersadar.
“Awas babi, jangan pada keluar, tetap di tenda!” kami saling pandang dalam cemas. Suara keras seperti ada yang berlari di samping tenda kami terdengar jelas. Lampu senter menyorot ke arah tenda kami. Ketakutan dan panik menyergap kami. Mereka yang berada di luar terus berteriak agar yang berada di tenda jangan keluar karena sekawanan babi menyerang tenda kami secara membabi buta. Menabrak setiap benda yang ada dihadapnya tanpa takut. Kami berdua berusaha untuk tenang di dalam tenda yang sempit. Selama lima belas menit kurang lebih peristiwa itu berlangsung. Ketika mendapat informasi kalau sekawanan babi hutan telah pergi, kami tetap tidak beranjak dalam tenda. Rasa cemas dan kantuk mengalahkan rasa penasaran kami terhadap apa saja yang telah dilakukan oleh babi-babi hutan tersebut. Mereka yang penasaran pergi keuar untuk melihat. Aku dan temanku kembali terlelap dalam udara dingin yang menggigil.
                Setengah tiga pagi kami semua bangun. Hujan reda, sepertinya akan cerah. Kami akan menanjak kembali menuju puncak. Semangatku menggelora, rassa kantukku seketika hilang, semangatku menghangatkan tubuhku yang kedinginan. Aku mangajak temanku untuk segera beranjak. Udara dingin dan rasa lelah sisa kemarin melenakannya. Aku tetap membujuk agar segera bangkit. Tidak membutuhkan waktu lama dia pun beranjak. Kami bersiap untuk menanjak ke puncak.

                Sebelum berangkat kami semua berkumpul untuk melakukan briefing. Barang-barang kami tinggalkan di tenda, yang hanya kami bawa hanyalah head lamp atau senter, jas hujan, air minum dan sedikit makanan. Setelah mengikuti instruksi yang diarahkan oleh ketua kami serta berdoa, kami pun berangkat, berjalan mengikuti track yang menanjak. Keadaan yang gelap di tambah tanah yang basah serta licin membuat kesulitan kami bertambah dan menantang.
                Penerangan sepanjang perjalanan hanya dibantu lampu senter yang dibawa oleh setiap kami. Track menuju puncak lebih sulit dibandingkan track sebelumnya. Kami harus berjalan di jalan yang kecil dan berbatu. Kami harus memanjat karena tracknya yang menanjak dan curam. Ditambah udara dingin dan gelapnya keadaan. Tetapi, batu-batuan dan akar-akaran yang menempel cukup membantu kami. Rasa lelah jelas lebih terasa. Perjalanan terasa lama dan seperti diberi harapan palsu akan puncak.
Kami mulai jalan jam tiga pagi dan sampai di puncak jam setengah enam. Senang dan haru menjadi satu. Akhirnya kami sampai juga. Aku terpukau dengan pemandangan yang kulihat di sekelilingku. Pendakian penuh perjuangan terbayar lunas dengan pemandangan di atas puncak Ciremai yang luar biasa indahnya. Diatas puncak terdapat kawah yang cukup besar. 



Di puncak ini, semua pendaki yang mendaki dari Jalur Linggar Jati dan Palutungan berkumpul. Walaupun jalan yang tempuh berbeda juga medannya, tetapi  tujuan kami sama, puncak.
Dari atas puncak kami menyaksikan sunrise yang begitu indah. Semburat sinar mentari yang malu-malu keluar menambah keanggunan pesona sunrise di atas Ceramai.

Dari puncak Ciremai kami bisa melihat gugusan gunung yang menjulang lagi gagah dengan indahnya berbalut awan putih yang menawan. Yang paling besar adalah sang perkasa Gunung Slamet, dibawahnya ada Gunung Sumbing, Gunung Sindoro dan yang terakhir adalah si menawan Prau. Mataku berkaca-kaca melihat ini semua. Oh Tuhan, aku bersyukur masih diberi umur dan bisa melihat sebagian keindahanMu.








10 Film Terbaik dari Studio Ghibli yang Wajib Ditonton selagi masih Hidup

(sumber gambar; geek.com) Bagi penggemar film, anime, atau J-Culture pasti sudah tidak asing dengan yang namanya Studio Ghibli. ...