Minggu, 10 Maret 2019

10 Film Terbaik dari Studio Ghibli yang Wajib Ditonton selagi masih Hidup




(sumber gambar; geek.com)

Bagi penggemar film, anime, atau J-Culture pasti sudah tidak asing dengan yang namanya Studio Ghibli. Jika Hollywood mempunyai Walt Disney, di Jepang ada Studio Ghibli yang banyak memproduksi film animasi yang setara dengan Disney. Studio Ghibli sendiri didirikan pada tahun 1985 oleh Hayao Miyazaki dan Isao Takahata.

Film animasi dari Studio Ghibli selalu menyajikan cerita yang unik, fantasi, science, bahkan mistis. Untuk tampilan gambarnya sendiri selalu menyajikan tampilan yang memanjakan mata. Cerita di setiap film dari Studio Ghibli mampu membuat penonton terhanyut, jatuh cinta sama karakter-karakternya, dan bahkan sampai menangis.

Pada tahun 2017 lalu, artis berbakat tanah air, Sherina Munaf mendapatkan kesempatan untuk menyanyikan lagu untuk acara tivi di Studio Ghibli Jepang. Masih di tahun yang sama, Studio Ghibli pernah mengadakan pameran pertamanya di Jakarta dan Asia Tenggara dengan tema The World of Ghibli.

Sebenarnya ada banyak film-film dari Studio Ghibli yang keren, tetapi di sini saya akan merangkum menjadi 10 judul film dari Studio Ghibli yang menjadi favorite saya.

1.      My Neighbor Totoro
Film dari Studio Ghibli yang paling populer dan memilik karakter yang iconic bernama Totoro. Memiliki bentuk seperti Hamster berukuran besar berwarna abu-abu yang lucu dan ngegemesin. Film ini bercerita tentang kakak-adik yang bertemu dengan makhluk halus penunggu hutan bernama Totoro. Merchandise Totoro banyak di jual di mall-mall Jakarta.
(sumber gambar: amazon.com)



2.      Spirited Away
Bercerita tentang sebuah keluarga kecil yang hendak melakukan perjalanan dan tiba-tiba masuk kedalam dunia lain. Dunia yang di isi oleh makhluk astral dengan berbagai rupa. Ada yang menyeramkan, aneh, lucu, dan yang tak pernah terbayangkan. Orangtuanya dikutuk menjadi babi, si anak perempuan harus menolong kedua orangtuanya untuk mengembalikan mereka kebentuk semula dan pergi dari dunia itu.
Film ini bahkan pernah menyabet penghargaan sebagai Best Animated Feature pada ajang bergengsi Academy Awards tahun 2003.
                                                       (sumber gambar: amazon.com)

3.      Grave of the Fireflies
Film dari Studio Ghibli (1988) yang berhasil membuat mata saya basah dan sembab setelah menonton. Bersetting di Jepang pada saat perang dunia ke 2. Film ini menggambarkan betapa kacau, dan porak porandanya Jepang pada saat itu. Dilanda serangan bom yang dijatuhi dari pesawat oleh pasukan Amerika.
Kisah kakak-beradik yatim-piatu korban perang yang harus berjuang hidup di tengah perang berlangsung. Penonton akan dibuat hanyut oleh plot cerita yang dibuat begitu dalam dan menyentuh. Ending ceritanya dijamin membuat nyesek penonton. Film yang luar biasa sedihnya. Film ini juga sudah dibuat live actionya tahun 2005.
                                                    (sumber gambar: cinephilefix.com)

4.      Whisper of the Heart
Film yang dirilis tahun 1995 ini bercerita tentang percintaan remaja yang manis dan imajinatif. Karakter utamanya seorang anak perempuan bernama Shizuku yang senang sekali membaca buku. Seiji adalah remaja seusianya yang dia sukai. Pada suatu hari Shizuku bertemu dengan kucing aneh dan membawanya ke sebuah toko antik dan bertemu dengan seorang kakek. Kita akan dibawa masuk ke dunia fantasi yang mengagumkan. Soundtracknya yang berjudul, “Take Me Home,  Country Roads.” lagu country yang menyenangkan sekali dan memorable.
                                                (sumber gambar: barnesandnobble.com)

5.      The Secret World of Arrietty
Film yang dirilis pada tahun 2010 ini diadaptasi dari novel klasik karya Mary Norton. Cerita dan skenarionya ditulis oleh Hayao Miyazaki dan Keiko Niwa.  Film ini bercerita tentang keluarga liliput yang hidup di rumah manusia, mereka menyebut diri mereka adalah the borrowers (Para Peminjam).
Tokoh utamanya adalah Arriety gadis liliput remaja, dan Shio, laki-laki remaja yang percaya akan adanya manusia kecil itu. The Secret World of Arrietty menjadi debut pertama the Spidey aka Tom Holland dalam dunia perfilman. Holland menjadi pengisi suara Sho.
                                                       (sumber gambar: amazon.com)

6.      Kiki’s Delivery Service
Film ini pertama di rilis pada tahun 1989. Kiki adalah penyihir perempuan berusia 13 tahun yang dengan sengaja meniggalkan rumah lalu bekerja di toko roti sebagai pengantar roti dan tinggal di sana. Di sini kita akan diajak terbang bareng kiki menggunakan sapu terbang yang identik dengan penyihir.
                                                       (sumber gambar: amazon.com)

7.      Princess Mononoke
Princess Mononoke menjadi salah satu film kebanggan Studio Ghibli yang menang banyak penghargaan di seluruh dunia. Film yang rilis tahun 1997 bergenre fantasi, action, dan dibumbui unsur sejarah. Bersetting di Jepang pada tahun 1336-1573 pada masa Muromachi.

Bercerita tentang pangeran bernama Ashitaka yang mendapatkan kutukan dari dewa babi dan harus pergi ke barat untuk bertemu pemimpin wanita di sebuah desa yang berisi para pandai besi. Kemudian bertemu dengan Princess Mononoke yang memiliki arti monster. Film ini seperti memberikan pesan agar manusia menjaga lingkungan agar tercipta keseimbangan hidup.
                                                       (sumber gambar: amazon.com)

8.      The Tale of Princess Kaguya
The Tale of Princess Kaguya (2013) bercerita tentang seorang kakek yang menemukan anak perempuan di dalam rebung bambu. Film ini diangkat dari cerita rakyat Jepang berjudul Taketori Monogatari. Setelah menjadi kaya, karena menemukan banyak harta berharga di dalam bambu yang lain. Kakek dan Nenek itu pindah ke kota untuk membesarkan anak perempuannya, mendidiknya dan agar menjadi bangsawan, hingga mendapat julukan putri Kaguya. Ending film ini sangat mengharukan dan tragis.
                                                       (sumber gambar: pinterest.com)

9.      Ponyo
Pertama tahu film Ponyo itu pada saat JFF (Japanese Film Festival) 2017 lalu. Walau film ini pertama kali di rilis tahun 2009. Film ini bercerita tentang seekor ikan perempuan bernama brunhilde yang tertangkap manusia dan diselamatkan oleh anak manusia bernama Sosuke. Mereka bersahabat, dan Sosuke memberikan nama baru menjadi Ponyo.
Ponyo jatuh cinta kepada Sosuke dan tidak mau kembali ke laut dan membangkang kepada ayahnya yang menyuruhnya pulang. Ponyo ingin menjadi manusia lalu mencuri ramuan ajaib ayahnya. Cerita Ponyo ringan dan diadaptasi dari cerita popular The Little Mermaid.
                                                       (sumber gambar: amazon.com)

10.  Laputa: Castle in The Sky
Castle In The Sky merupakan film pertama dari Studio Ghibli yang dirilis pada tahun 1986. Tokoh utama dari film ini adalah Sheeta, seorang gadis yang jadi buronan para bajak laut. Kemudian Sheeta bertemu dengan Pazu yang membantu menyelamatkannya dari kejaran bajak laut tersebut dan melakukan petualangan di negeri yang berteknologi tinggi.
Cerita ini termasuk bergenre fantasi. Laputa sendiri adalah sebuah pulau legendaris yang melayang di atas awan.
                                                       (sumber gambar: medium.com)








Minggu, 27 Januari 2019

Menikmati Makan Siang Serba Jamur, Di Rumah Makan Jejamuran Jogja



November tahun lalu saya ke Jogjakarta dan sempatkan untuk makan siang di Rumah Makan (R.M) Jejamuran yang beralamat di Jl. Magelang KM. 11, Desa Niron, Pandowoharjo, Tridadi, Kec. Sleman, Jogjakarta.

Sebenarnya saya sudah lama tahu Jejamuran tetapi baru kali ini dapat menyempatkan datang ke sini atas rekomendasi teman yang memang suka makan di sini

Karena penasaran dengan menu makanannya yang serba jamur, datanglah saya pada saat jam makan siang, sebelum pamit meninggalkan Jogja sore harinya.

(sumber, http://kotajogjainfo.blogspot.com)

Ketika sampai, ternyata sudah ramai oleh pengunjung, dan saya harus masuk daftar waiting list, kurang lebih lima belas menit saya menunggu. Untuk membunuh waktu saya main ke toko oleh-olehnya yang juga ada di dalamnya. 

Berbagai macam makanan olahan yang terbuat dari jamur tersedia dan dikemas secara apik dan higienis, jadi bisa tahan jika harus disimpan lama.

Ada keripik jamur, rendang jamur, kornet jamur dll. Jika mau membeli tetapi kita ragu dengan rasanya, tenang saja, tersedia tester juga kok, dan kita bisa coba dulu sebelum membeli. Tampilan luar R.M. terlihat biasa saja, kayak R.M. kebanyakan. Tetapi ketika sudah masuk ke dalam ternyata luas sekali. 

(dokumen pribadi)

Di dalam ternyata sudah ramai, para pelayannya banyak, dan sibuk bolak-balik melayani pelanggan dengan sigap. Terlihat juga beberapa petugas yang berjaga di beberapa sudut.

Fasilitas yang tersedia pun lengkap. Toilet yang banyak, Mushola yang besar dan nyaman, taman kecil di dalam, kolam ikan yang bisa buat terapi dengan memasukkan kaki ke dalamnya, instagramable spots, dan arena budi daya jamur.

Waktu saya datang juga ada suguhan live music yang menarik. Kita juga bisa melihat dapur yang berada di tengah dengan jendela-jendela terbuka, jadi kita bisa sekalian melihat proses pembuatannya.

Untuk menu makanannya sendiri sebenarnya ada berbagai macam menu tersedia dengan bahan dasar jamur pastinya, tetapi atas rekomendasi teman, saya hanya pesan Nasi Putih, Sate Jamur, Tongseng Jamur, Rendang Jamur, Resoles, Dawet Jamur Kuping, dan Lime Squash.

Kurang lebih lima belas menit makanannya datang. Saya tinggal ke toilet dan shalat zuhur sebentar. Dari tampilannya terlihat tidak berbeda dengan makanan aslinya.

Dan ketika di makan rasanya amazing, karena rasa jamurnya seperti tidak berasa. Jadi seperti makan sate ayam biasa, tongseng, dan rendang. Dan favorit saya itu sate jamurnya.

                                                                      (dokumen pribadi)

Untuk rasa es dawetnya pun seperti es dawet biasa. So, you have to try it.  Pengalaman yang tidak biasa sih menurut saya makan di R.M. Jejamuran. Harga makanan di sini kisaran dari Rp. 3000-Rp. 25.000. Daftar menu dan harga yang saya pesan:

1.      Nasi Putih: Rp. 3000
2.      Sate Jamur: Rp. 19.000
3.      Tongseng Jamur: Rp. 17.000
4.      Rendang Jamur: Rp. 20.000
5.      Resoles (isi 3): Rp. 14.000
6.      Dawet Jamur Kuping: Rp. 13.000
7.      Lime Squash: Rp. 12.000
8.  Keripik Jamur (tergantung jenisnya): Rp. 15.000-Rp. 22.000


                                                            (dokumen pribadi)

Setelah kenyang saya pamit karena dikejar waktu juga, tetapi sebelumnya saya menyempatkan beli beberapa toples keripik jamur dan langsung pesan grab car menuju stasiun Lempuyangan.

Berangkat jam setengah tiga sore dan sampai di Jakarta setengah dua belas malam. 

Ada kejadian yang tak terduga ketika sampai kosan, ternyata oleh-oleh yang saya beli di R.M. Jejamuran itu ketinggalan di kereta. Dan saya hanya bisa tersenyum getir.



Selasa, 25 Desember 2018

Jernihkan Fikiran dan Hati



Tahan, dan cobalah tenangkan hatimu.

Jangan sampai hanya karena satu dua kesalahan, kamu melupakan banyak kebaikan yang pernah dibuatnya.

Semangat menjalin itu seperti air laut, adakalanya pasang, dan ada waktunya surut.

"Keterlaluanlah kamu jika menderita hanya karena buah dari fikiran yang berisi tentang kemungkinan-kemungkinan yang mungkin belum tentu terjadi."

***


Ada yang tertahan menunggu tumpah.

"Tahanlah dan jangan dibiarkan, karena itu adalah sumber dari penyesalan."

Belajarlah dari kejadian saat ini,
Karena yang akan terjadi nanti, akan terasa lebih getir daripada ini.

Maka dari itu bersikaplah seperti satria, yang akan memaafkan sebelum ada kata maaf terucap.

Kita memang tidak bisa memilih dari rahim mana kita ingin dilahirkan. Tapi kita berhak memilih dengan siapa kita ingin berbagi rasa dan cerita.

Rayakanlah hubungan pertalianmu, seperti kamu sedang merayakan turunnya hujan.

Karena disetiap rintiknya, berlimpah kebahagiaan yang sengaja diturunkan Tuhan, untukmu.


Bekasi, 26 Desember 2017




Jumat, 07 Desember 2018

Aku yang Sedang Ingin Menghilang



Tidak ada yang lebih mengerti dan memahami diri kita, kecuali diri kita sendiri. Hari ini aku sudah merasa sedang berada di titik di mana aku ingin sendiri dan menghilang. Aku ingin sendiri, tidak ingin bertemu atau mengobrol dahulu dengan orang lain. 

Kebosanan, kekecewaan, permasalahan, dan segala kemuakanku dengan apa yang aku rasakan saat ini membuat aku ingin segera berpaling dari dunia palsu ini. Beri aku waktu untuk berfikir. Aku ingin mengintrospeksi diri barang sejenak. Aku ingin hilang dari sosial media, pertemanan yang aku jalani, basa-basi busuk, kepalsuan, dan segala yang membuat aku kacau di dalam.

Jika aku sudah merasa baikan, berhasil menata kembali hati yang terserak, menyembuhkan luka yang menganga, menenangkan jiwaku yang tak terkendali, aku akan kembali lagi. Beri aku waktu untuk sendiri dan menghilang. Karena diri dan jiwaku sedang butuh perhatian yang dalam.



Jakarta, 7 Desember 2018



Minggu, 02 Desember 2018

Menikmati Gelato sambil Ditemani Superheroes, mau?



Apa rasanya ya, makan gelato sambil ditemani para superheroes abad ini? Pasti menyenangkan sekali. Kebetulan nih, kali ini saya mau cerita tentang pengalaman menikmati gelato di tempat yang sedang hits di kota yang menurut Joko Pinurbo terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan, yup. Jogja.  Belum lama ini saya main  ke Jogja dan direkomendasikan kafe gelato yang kebetulan dekat kosannya.

Iconic Gelato dan Bistro yang berlokasi di Jalan Magelang Km. 5 Sleman, Jogjakarta bersebelahan dengan JCM (Jogja City Mall). Kafe ini masih terbilang baru karena dibuka pertama kalinya bulan februari 2018 jadi usianya belum genap satu tahun.  Karena lokasinya yang dekat dengan kosan teman, saya pikir nggak ada salahnya untuk ke sana.


Pertama melangkahkan kaki masuk ke dalam kafenya nampak terkesan cozy dan asyik buat berlama-lama. Seperti layaknya kafe kebanyakan yang menyajikan kenyamanan. Setelah saya masuk lebih dalam barulah saya
melihat sesuatu yang menarik tidak jauh dari pintu masuk.

Di depan lorong  kami sudah di sambut oleh Anakin  Skywalker aka Darth Vader di film Star Wars lengkap dengan kostum serba hitamnya yang keren banget dan mirip dengan tokoh aslinya. 





Lorong menuju ruang rahasia pun apik banget, berasa lagi ada di Millenium Falcon-nya Han Solo, masih di film Star Wars. Sumpah keren banget. Sebelum saya masuk ke dalam, saya pesan gelato dengan cone hitam rasa coklat  dan mint seharga 30k. Di sini juga menyediakan menu Western-Asian Fusion. Selesai pesan saya langsung menuju lorong untuk ambil foto. Dan pintu masuknya pun otomatis terbuka dan tertutup. 



Setelah masuk ke dalam 'ruang rahasia' ini saya benar-benar terkesan sekali. Ruangan unik ini dikeliling berbagai macam action figures super heroes Hollywood yang terpampang di dalam etalase. Ada yang dalam bentuk diorama dan ada juga yang seukuran bentuk aslinya seperti Iron Man dan Spiderman. Tidak hanya dari super heroes DC dan Marvel, tokoh-tokoh film popular seperti Harry Potter, Star Wars,Terminator juga ada.



Saya juga menyempatkan berkeliling ruangan ini yang dipenuhi ratusan action figures yang mirip seperti tokoh aslinya. Jika sudah masuk ke dalam ‘ruangan rahasia’ ini rasanya ingin sekali berlama-lama menikmati gelato sambil memandangi para superheroes dari berbagai bentuk.

Untuk harganya sendiri, menurut saya sedikit lebih mahal dari harga di kafe gelato sebelah. Tetapi masih worth it lah ya. Kita bisa dimanjakan dengan tampilan design interior yang keren dan juga ditemani ratusan super heroes keren dalam bentuk action figures yang nyaris mirip dengan aslinya.


Buat kalian ingin bersantap dengan hidangan berat di sini juga tersedia. Jika menurut saya Iconic Gelato dan Bistro bias jadi pilihan tempat nongkrong yang asyik.



Oh iya, untuk seluruh action figures di sini original semua karena sang pemilik juga memajang sertifikat keaslian semua action figures. Keren kan.

Iconic Gelato dan Bistro patut banget dikunjungi jika kamu sedang di Jogja. Saran saya jika mau datang ke sini sebelum jam makan siang karena tidak terlalu ramai. Jika sudah masuk jam makan siang, sore dan malam, tempat ini akan ramai sekali. Karena memang instagrammable banget.

Iconic Gelato dan Bistro baru mempunyai satu outlet ya, dan itu hanya di Jogja saja. Rencannya akan tambah satu outlet lagi yang lokasinya bersebelahan dari outlet lama. Tema yang akan diusung sendiri, menurut info yang saya dapat dari teman, yang memang sering datang ke sini adalah transportasi tradisional dan segala ke authentic-an Jogja.










Minggu, 28 Oktober 2018

Dua Buku Antologi Penyemangat di Tahun 2018


Desember 2017 lalu saya mencoba ikut lomba cerpen yang diadakan penerbit divapress Yogyakarta. Dari tiga cerpen yang saya ikutkan, alhamdulillah dua lolos. Dan cerpen-cerpen itu dimasukkan ke dalam dua buku antologi bersama para pemenang lainnya yang terbit di pertengahan tahun 2018.

Buku antologi terakhir saya bersama teman-teman FLP Bekasi terbit di tahun 2016. Dari tahun 2016 sampai 2017 saya mulai jarang menulis cerpen. Entah kenapa setelah membaca buku Haruki Murakami berjudul what I talk about, when I talk about running di pertengahan 2017 lalu, saya mulai semangat untuk menulis cerpen lagi.

Tahun 2018 menjadi tahun di mana saya semangat kembali untuk menulis. Apalagi setelah cerpen saya diterbitkan.

Beberapa cerpen saya sudah dikirim ke media lokal tapi masih nihil hasilnya. Dengan diterbitkannya dua buku antologi ini saya seperti mendapatkan energi baru untuk terus menulis cerpen.

1. Parade Kisah Pengguna Ojek Online
Buku ini terbit April 2018. Buku ini berisi cerita dari para penulis yang menang kompetisi dengan tema transportasi online. Di buku ini ada berbagai cerita dari pengalaman si penulis yang bikin pembaca baper.



2.  Stories of Your Life
Buku ini terbit di bulan Juli 2018. Ada dua puluh penulis yang menuliskan kisahnya tentang  kota kelahirannya, pernikahan, mereka yang tinggal di perbatasan dll. Ada banyak pelajaran dan hikmah yang diambil dari setiap kisah di buku ini.




Di sini saya mau memberikan contoh tulisan saya yang ada dalam buku Stories of Your Life.


Untukmu yang Selalu Berbekas di Hati


Aku sudah kebal jika jadi bahan bully-an teman-teman di kantor  ataupun teman-teman main.
Bayangkan, hanya karena aku berasal dari  kota yang pernah mendadak terkenal se-nusantara karena meme yang dibuat netizen.

Aku tidak marah dengan mereka, hanya jengkel saja.  Aku memaklumi mereka karena mereka tidak tahu tentang tanah kelahiranku dengan baik. Mereka hanya tahu dan melihat dari teve atau internet.
Di sosial media bahkan netizen berlomba-lomba untuk membuat meme tentang kotaku, rasanya perih sekali melihat kotaku di perlakukan seperti itu.


Jika sudah begitu, aku harus bergerak. Aku harus menjadi duta kotaku dan memberikan edukasi ataupun penjelasan kepada mereka yang belum tahu betapa luar biasanya tanah kelahiranku itu.
***
Andai saja pada saat sekolah dulu mereka masuk dan tidak madol setiap pelajaran bahasa indonesia, mereka pasti tidak akan membully kotaku. Mereka harusnya tahu jika penyair kebanggaan negeri ini, Chairil Anwar mengabadikan nama Bekasi dalam puisinya yang fenomenal, Krawang-Bekasi.

Puisi tentang arti pengorbanan para pejuang muda yang sungguh luar biasa semangatnya, gugur dalam membela tanah air di sekitar Krawang-Bekasi dalam melawan penjajah. Tetapi semangatnya tetap menggelora dan abadi.


Andai mereka tahu dan berpikir kembali, pasti mereka akan berpikir seribu kali untuk membully kotaku.

Bahkan penulis legendaris Indonesia yang pernah menjadi nominasi nobel sastra juga membuat novel tentang Bekasi. Di Tepi Kali Bekasi yang di tulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang bercerita tentang sejarah para pejuang yang berjuang di Bekasi dan sekitarnya yang betapa menderitanya mereka pada masa kependudukan Belanda.


Bekasi juga mempunyai gedung bersejarah bernama Gedung Juang 45 yang banyak menyimpan sejarah karena pernah menjadi tempat bagi para pahlawan untuk mempertahankan negara dari penjajahan Belanda.

Dulu, sebelum aku ngekost di Jakarta. Aku harus berangkat kerja dari rumah jam setengah lima pagi. Aku menggunakan kereta ke Jakarta dari stasiun Bekasi. Jujur aku rindu masa-masa itu. Setiap pagi ibuku membangunkanku dan membuat bekal makan siangku. Membuatkan sarapan dan teh hangat. Aku menggunakan motor ke stasiun. Aku sering shalat shubuh di sana. 



Aku menikmati sekali perjalananku ini. Aku tidak sendiri, di stasiun sudah banyak pejuang-pejuang tangguh sepertiku juga. Banyak suka dukanya yang aku dapat dari perjalananku itu. Aku menjadi sekelompok ‘anker’ anak kereta. Dari sengsaranya gencet-gencetan di dalam kereta, sampai untuk menggerakkan tangan saja penuh perjuangan jika gerbong sedang penuh sesak.

Kereta pernah mengalami gangguan di salah satu stasiun hingga harus tertahan. Sampai ada yang kentut di dalam gerbong ketika gerbong sedang penuh-penuhnya. Banyak cerita di dalam kereta, tidak mungkin aku bisa melupakan kotaku tercinta.

Bekasi juga mempunyai pahlawan nasional yaitu KH. Nur Ali yang namanya digunakan di salah satu jalan di kota Bekasi. Beliau adalah pejuang nasional dari Bekasi. Ada juga Kali Bekasi yang menjadi saksi bisu di mana para pejuang yang berguguran, mayatnya dihanyutkan di kali itu oleh tentara Belanda. Mereka rela berjuang demi Bekasi, demi kemerdekaan negara ini.

Infrastruktur di Bekasi sedang berkembang dan terbilang maju. Tidak kalah dengan Jakarta atau kota lain di pinggiran Jakarta. Jika mau melihat oppa-oppa korea datang saja ke Cikarang, Kabupataen Bekasi. Di sana banyak sekali di temui oppa korea, karena di sana ada banyak kawasan  industri yang banyak perusahaan korea, cina dan Jepang di sana.

Di Bekasi juga ada taman makam pahlawan di mana para pejuang dari Bekasi di makamkan di sana.
“Bekasi..berbekas di hati..kota yang membekasi.” kata Pram.

Siapa yang tidak mengenal Kali Malang, sungai buatan yang membelah Bekasi hingga melewati Jakarta ini memiliki sejarah yang lekat dengan Bekasi. Sungai yang sengaja dibuat untuk menyuplai air bersih bagi warga Bekasi hingga Jakarta.

Bekasi dahulu bernama Bhagasasi. Bekasi pada jaman dahulu adalah ibu kota dari kerajaan Tarumanegara.

Di kota patriot ini aku tumbuh dan terus tumbuh menjadi pribadi yang belajar tentang tanah kelahirannya. Waktu kecil aku pernah merasakan menjadi anak yang nakal. Mandi di empang di siang hari, mencari capung dan belalang di kebun milik pak haji yang lapang sampai sore hari dan Ibu menjemputku dengan amarah yang memuncak.


Aku masih ingat ketika setiap malam aku dan teman-taman pergi ke TPA (Taman Pendidikan Al- Qur'an) di dekat rumah. Menghafal satu surah dahulu jika mau pulang cepat. Memijat kaki Pak Haji jika beliau meminta. Bermain petasan jika bulan ramadhan dan semua kenangan indah di tanah kelahiran yang aku rindu.

selesai









Minggu, 07 Oktober 2018

Empat Hari untuk Selamanya (Part III)





(Kemanapun Kaki Kita Melangkah, Pulang Jualah Tetap Tujuan Utama Kita)

Perjalanan kami masih berlanjut ke negara berikutnya. Cerita apa yang kami dapati nanti, kami pun belum tahu. Akankah seru dan  sedikit tragis seperti di Singapura atau bahkan jauh lebih menyenangkan dan bermakna dari sebelumnya. Kami tidak tahu, just let see..

                                                                                         ***

Perjalanan kali ini sepertinya banyak menguras waktu dan emosi. Dari Singapura kami naik bus ke Malaysia tujuan Kuala Lumpur atau KL. Di sana rencananya kami akan di jemput oleh temannya Sun, Hanis. Mereka kenal sewaktu tinggal di Australia.

Perjalanan menggunakan bus ternyata cukup melelahkan juga. Ditambah lagi ketika kami berada di kantor imigrasi Malaysia. Petugasnya banyak yang kurang bersahabat. Orang-orang yang mau masuk ke Malaysia memang banyak dan sudah mengantri dengan tertib. Tetapi tetap saja, sepertinya salah saja kita semua. Dan petugas harus teriak-teriak untuk memanggil atau memberitahukan.

Apesnya, kami berlima juga kena semprot. Dikira lagi ambil fotolah, di suruh rapihin antriannyalah, disuruh majulah. Padahal sudah antri dengan rapih dan mengikuti aturan. Yasudahlah, kami semua harus menjaga mood biar tetap bisa menikmati perjalanan.

Berhubung kami masih lapar, ambillah kami makanan di bagasi dan ngemil secara diam-diam di dalam bus. Perjalanan kurang lebih dihabiskan selama enam jam.  KL dan Jakarta itu sebelas dua belas, sama-sama macetnya. Di sepanjang perjalanan, kami memandang lewat jendela, untuk kondisi jalan dan sekitarnya mirip sekali Indonesia. Jadi berasa kayak lagi pulang kampung naik bus lewat jalur pantura.

Di setiap tempat pemeberhentian atau peristirahatan bus terdapat rumah makan, bagi yang mau ke toilet atau mau ke mushola sudah pasti.
***

Jam delapan kami sampai di KL. Kami tunggu di depan jalan yang mirip perempatan Sarinah, dan itu macet pula. Hanis ternyata sudah standby di sana. Dan ternyata dia sudah menunggu dari jam empat sore. Karena perkiraan dia tidak akan selama ini. Sabar sekali ternyata dia.

Kami diantar menuju parkiran dan segera masuk ke dalam Nissan Navaranya. Sun duduk di depan. Dan kami berempat di belakang. Untung waktu itu badan kami masih kurus. Semua tas kami ditaruh di belakang. Bergegaslah kami berangkat menuju restaurant di sekitar KL karena kami semua sudah lapar sekali.

Kami memutuskan makan di restaurant pinggir jalan yang lokasinya tidak jauh dari Petronas Twin Towers. Makan malam sambil ditemani cantiknya Twin Towers yang gemerlap. Setelah kenyang dan berbincang, kami lanjut menuju rumah pak cik Fuad di Selangor. Lokasi tujuan utama kami ke Malaysia.

Di dalam mobil kami masih mengobrol sambil menemani Hanis menyetir. Kami saling bercerita dan mengenal lebih dekat lagi. Dan Hanis menceritakan bagaimana awalnya bisa bertemu dengan Sun dan pak cik.

Setelah lama mengobrol, satu persatu penumpang belakang tertidur. Wawan mulai tidur di bangku pojok kiri, disusul Mandar disebelahnya, lalu Bagus dan saya di pojok kanan. Tinggalah Sun yang menemani ngobrol Hanis. Biarlah mereka mengenang masa lalunya. Ketika kami sedang tertidur. Si Hanis mulai menunjukkan taringnya.

Sekitar tengah malam kami satu persatu bangun, Hanis mengebut di jalan tol Malaysia yang sepi. Kita semua kaget dan langsung melek lagi. Gila nih, orang. Perawakannya kecil, kalem, rambutnya gondrong dan berkumis. Sekalinya nyetir, bikin kami berlima jantungan.

                                                                                       ***
Jam setengah satu dini hari kami sampai. Sebelum sampai kami sempat tersasar.  Karena gang rumah pak cik kecil dan minim penerangan. Beberapa kali kami salah masuk jalan yang lebarnya hanya bisa dilewati satu mobil. Untung saja di ujung gang pak cik menunggu dengan mobil tuanya. Kami pun diarahkan ke jalan yang benar, yang dirahmati Tuhan Yang Maha Esa.

Keadaan kampung yang temaram, suara jangkrik dan bentuk bangunan rumahnya mengingatkan saya pada rumah si mbah, yang berbeda hanya di bentuk rumahnya yang mengingatkan saya pada rumahnya Upin-Ipin . Sesampainya di rumah pak cik. Kami disambut dengan hangat oleh mak cik, istri pak cik.



Kami memperkenalkan diri kepada pak cik dan mak cik. Mak cik sudah menyiapkan aneka makanan di meja yang sepertinya sudah dingin. Karena estimasi mereka kami akan sampai sekitar jam delapan malam. Ternyata diluar dugaan. Pak cik juga sudah menunggu di sana cukup lama.

Kami merasa jadi tidak enak dan bersalah. Jamuan dari keluarg pak cik sangat hangat sekali. Walau kami menggunakan bahasa Indonesia, pak cik dan mak cik mengerti bahasa kami. Kami semua berbaur, seperti anak yang sudah lama tidak balik ke rumah dan sesampainya di rumah di sambut sangat hangat sekali.

                                                                                      ***
Shubuh kami sudah bangun kembali setelah tidur beberapa jam saja semalam. Yang membuatku heran adalah, waktu shubuh di Malaysia dan Singapura itu selalu sama yaitu jam enam pagi.

Mak cik pagi-pagi sudah bergegas mencari sarapan. Saya dan kawan-kawan diajak menemaninya. Suasana pagi khas kampung di Indonesia sangat berasa sekali. Dan benar saja, setiap pagi itu ada yang jualan sarapan dan gorengan. Kayak penjual nasi uduk kalau di Jakarta. Penjual jual dagangannya di depan rumahnya. Para pembeli berdatangan dan saling mengobrol mirip kayak di Indonesia.

Anyway, yang dijual pun sama kayak di Jakarta, hanya beda nama saja. Ada nasi lemak atau kalau di Jakarta dan sekitarnya biasa menyebut nasi uduk, lauknya juga sama. Dan jajanan pasarnya itu juga sama saja. Ada semacam bakwan, pastel, onde-onde dan lain-lain. Saya lupa namanya apa kalau di sana, padahal waktu itu mak cik cerita.

Kami juga jalan-jalan pagi di sekitaran kampung, yang mirip kampungnya si mbah di Kebumen. Semakin ke sini, semakin terlihat kalau Malaysia itu seperti adiknya Indonesia



Dan yang khas di pagi hari di Kampung Sungai Sireh, Selangor,  Malaysia adalah sajian teh tariknya. Setiap pagi teh tarik ini menjadi minuman wajib orang Malaysia. Berhubung saya tidak suka susu dan ketika coba susunya berasa sekali, maka saya lewatilah secangkir teh tarik hangat yang katanya lezat.

Sambil menyantap sarapan pagi yang banyak ini, kami pun memulai obrolan hangat. Saya dan teman-teman berkenalan, kami saling bercerita seperti sanak keluarga yang sudah lama tidak berjumpa karena ditinggal pergi merantau ke kota.

Pak cik dan mak cik tinggal di rumah berdua saja. Anaknya yang besar sudah menikah dan tinggal di kota. Anaknya yang perempuan sudah menikah dan tinggal tidak jauh dari rumah. Sedangkan dua anak lelakinya yang seumuran kami pergi merantau ke Afrika Selatan karena dapat beasiswa dari negara.


Cerita punya cerita, pak cik dan mak cik itu punya darah Indonesia. Bapaknya pak cik berasal dari Blora, Jawa tengah. Sedangkan kedua orang tua mak cik berasal dari Solo. Maka dari itu mereka sedikit-sedikit bisa bahasa jawa atau mengerti bahasa Jawa. Dan juga Pak cik itu sering bolak-balik ke Jakarta dan ke Jawa karena menghadiri acara taklim. Warga di Kampung Sungai Sireh ini juga kebanyakan keturunan Indonesia, terutama dari Jawa.

Mereka memuji dan kagum sekali dengan Indonesia, apalagi dengan sekolah-sekolah agamanya. Seperti pesantren yang banyak di Jawa. Di Malaysia sedikit pesantren atau sekolah agama. Dan salah satu cita-cita pak cik adalah membangun pesantren di Kampung Sungai Sireh ini dan pergi ke Inggris setelah sehat kembali.

Kalau dari cerita beliau, ternyata enak juga jadi warga negara bekas jajahan Inggris, bebas pergi ke semua negara persemakmuran Inggris tanpa ribet. Seperti pak cik dan Hanis ini.

Jam sepuluh kami pamit dan melanjutkan perjalanan kembali. Suasana haru terjadi ketika kami mau pamit. Entah kenapa pak cik menjadi melankolis dan terasa berat melepas kami. Kami pun dengan berat hati meninggalkan pak cik dan mak cik. Ucapan terima kasih dan doa tidak berhenti mengiringi perpisahan kami. Berdoa agar mereka diberi kesehatan yang paripurna.


Hari ini kami akan kembali ke Kuala Lumpur. Perjalanan masih panjang menuju KL. Dengan suka cita kami siap berpetualang kembali. Sebelum ke KL kami mampir ke Studio Les’ Copaque, itu loh rumah produksi serial kartun Upin-Ipin, dan makan siang di kafe Upin-Ipin.



Setelah kenyang makan siang kami pergi ke store yang jual pernak-pernik Upin-Ipin dan lanjut untuk pergi ke Masjid yang berada tidak jauh dari sana untuk shalat zhuhur. Masjid Sultah Salahuddin Abdul Aziz Shah atau biasa disebut dengan Masjid Biru yang masih berada di Selangor. Masjid ini rupanya mengingatkan saya dengan Masjid yang berada di Bekasi, Masjid Al-Azhar Jakasampurna Kota Bekasi yang mirip sekali dengan Masjid Biru ini.




Shalat zhuhur sudah selesai, dan kami melanjutkan perjalanan ke KL. Sekitar jam empat sore kami sampai di KL dan bergegas pergi ke hotel Revo Packers yang sebelumnya sudah kami pesan. Kami pesan satu kamar yang berisi dua ranjang tingkat untuk semalam. Cukup luas untuk kami tempati berenam.


Setelah shalat ashar dan bersih-bersih kami bergegas pergi ke Twin Towers yang lokasinya tidak jauh dari Hotel kami. Lebih tepatnya kami berempat, Sun dan Hanis pergi ke suatu tempat menemui teman-temannya semasa di Australia.

Walaupun lagi di KL tetapi saya merasa seperti sedang berada di Jakarta. Kawasan Twin Towers mirip kawasan perkantoran SCBD Sudirman. Kami menikmati suasana sore sambil foto-foto di KL. Dan juga kami sempat masuk ke Twin Towers untuk beli snacks. Sambil menunggu Sun dan Hanis, kami berempat pergi jalan-jalan ke Chinatown Petaling Street. Sekalian mau coba LRT (Light Rapid Tansit) di KL yang sebentar lagi akan beroperasi juga di Jakarta.



Setela lelah muter-muter tetapi belum ada yang menarik hati untuk dibeli, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam saja. Berhubung banyak tempat makan yang tidak halal, kami memutuskan untuk makan di KFC, lebih aman.

Puas jalan-jalan malamnya, kami kembali ke Petronas Twin Towers dan di sana Hanis dan Sun sudah menunggu. Twin Towers jika di lihat dari dekat dan malam hari nampak lebih cantik. Setelah lelah foto-foto malam hari kami segera kembali ke Hotel naik mobil. Jalan masih macet, sebelas dua belas dengan keadaan jalan Jakarta.



                                                                                             ***
Jam sebelas malam kami sudah di Hotel. Bersih-bersih dan shalat isya. Itinerary yang kami buat cukup membantu walau banyak juga yang keluar dari rencana. Seperti beberapa lokasi yang ternyata banyak yang tidak bisa kunjungi karena waktu yang kita miliki terbatas.

Dan beberapa rencana yang di luar dugaan. Seperti salah booked hotel, hujan turun deras di Singapura, menginap di rumah pak cik yang sebetulnya hanya berkunjung saja tidak pakai menginap, Hanis yang membawa mobil dan menjadi guide kami, perjalanan yang memakan waktu karena macet dan beberapa lagi. Ada yang menguntungkan dan ada yang tidak. Walau begitu membuat itinerary itu benar-benar membantu.

                                                                                            ***
Minggu pagi kami sudah beres-beres, hari ini adalah hari terakhir kami di Malaysia. Jam satu siang kami sudah harus take off dari bandara KL. Jam delapan pagi kami sudah cabut dari hotel. Dan cari breakfast di seputaran KL.



Tidak susah cari rumah makan yang buka. Kami menemukan rumah makan pinggir jalan yang ramai pengunjungnya. Di sana kami pesan roti canai, kari, nasi campur dan teh tarik/manis.

Kenyang sarapan, kami segera bergegas ke Central Market atau Pasar Seni untuk beli oleh-oleh. Kami cari lokasi terdekat karena waktu sudah mepet. Jadi kami hanya punya waktu satu jam untuk beli oleh-oleh. Sementara Hanis menunggu kami di mobil.



Kami membeli beberapa kaos, cokelat dan snacks setelah itu kami langsung menuju parkiran menemui Hanis yang selalu sabar melayani kami. Barang-barang bawaan kami taruh semua di belakang yang ditutupi terpal.

Di jalan, jiwa pembalap Hanis keluar kembali. Dengan kecepatan penuh menuju bandara yang membuat kami heboh di dalam mobil, benar-benar memacu adrenalin. Dan yang membuat khawatir adalah barang bawaan kami di taruh di bak belakang mobil. Suara barang-barang bergerak kedengaran berisik dan kami cemas kalau barang bawaan kami terbang semua ke jalan, 'kan nggak lucu kalau ada kecelakaan di jalan karena ulah barang-barang kami yang terbang di jalan tol dan menabrak kendaraan lain.

Saking cemasnya kami sampai berhenti untuk mengecek keselamatan barang-barang yang tidak seberapa itu tetapi penting untuk kami. Alhamdulilah, barang-barang tidak ada masalah, hanya cokelat yang kami beli banyak yang meleleh.

Hanya dengan cara ini kami semua bisa sampai di bandara sekitar jam dua belas. Di bandara kami berpisah dengan Hanis. Dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah menjadi ‘pendamping’ dan 'tukang foto' yang sabar untuk kami selama di Malaysia. Tanpamu perjalanan kami tidak semenarik ini. 


Kami masuk ke bandara dengan tergesa-tergesa karena sudah jam dua belas lewat. Tetapi kami masih harus mampir dulu ke Garrett Popcorn karena Mandar kepingin banget beli Popcorn yang lagi hits itu. Dan itu memakan waktu karena kami susah menemukan storenya.

Setelah selesai dengan drama pencarian store berondong jagung mewah itu, ternyata pesawat delay sejam lebih banyak. Menunggulah kami di bandara bersama penumpang yang lain. Sekitar jam dua lebih kami take off. Sampai di Soetta sudah masuk ashar dan kami langsung pergi ke mushola dan cari makan.


Sampai kosan kami isya. Dan petualangan kami selesailah sudah. Rencana perjalanan kami yang unforgettable ini akhirnya terealisasi. Dan sekarang kami bisa memulai untuk pergi ke luar negeri sendiri-sendiri, ke negara impian kami masing-masing yang jelas berbeda tentunya.

                                                                                           ***
Dua bulan berikutnya kami dapat kabar buruk. Mak cik dikabarkan telah berpulang. Berita tersebut mengagetkan kami semua. Waktu kami di rumah pak cik. Mak cik banyak bercerita tentang kesehatan pak cik yang kurang baik karena stroke. Dan mak cik terlihat segar bugar dan telaten merawat pak cik.

Pada intinya kami semua berduka atas kepergian mak cik yang tak terduga itu. Walaupun sebentar, pertemuan kami dengan keluarga pak cik sudah membuka lembaran cerita tersendiri di hidup kami. Selamat jalan mak cik kebaikanmu akan selalu kami ingat.


                                                                             the end



.


10 Film Terbaik dari Studio Ghibli yang Wajib Ditonton selagi masih Hidup

(sumber gambar; geek.com) Bagi penggemar film, anime, atau J-Culture pasti sudah tidak asing dengan yang namanya Studio Ghibli. ...