Minggu, 28 Oktober 2018

Dua Buku Antologi Penyemangat di Tahun 2018


Desember 2017 lalu saya mencoba ikut lomba cerpen yang diadakan penerbit divapress Yogyakarta. Dari tiga cerpen yang saya ikutkan, alhamdulillah dua lolos. Dan cerpen-cerpen itu dimasukkan ke dalam dua buku antologi bersama para pemenang lainnya yang terbit di pertengahan tahun 2018.

Buku antologi terakhir saya bersama teman-teman FLP Bekasi terbit di tahun 2016. Dari tahun 2016 sampai 2017 saya mulai jarang menulis cerpen. Entah kenapa setelah membaca buku Haruki Murakami berjudul what I talk about, when I talk about running di pertengahan 2017 lalu, saya mulai semangat untuk menulis cerpen lagi.

Tahun 2018 menjadi tahun di mana saya semangat kembali untuk menulis. Apalagi setelah cerpen saya diterbitkan.

Beberapa cerpen saya sudah dikirim ke media lokal tapi masih nihil hasilnya. Dengan diterbitkannya dua buku antologi ini saya seperti mendapatkan energi baru untuk terus menulis cerpen.

1. Parade Kisah Pengguna Ojek Online
Buku ini terbit April 2018. Buku ini berisi cerita dari para penulis yang menang kompetisi dengan tema transportasi online. Di buku ini ada berbagai cerita dari pengalaman si penulis yang bikin pembaca baper.



2.  Stories of Your Life
Buku ini terbit di bulan Juli 2018. Ada dua puluh penulis yang menuliskan kisahnya tentang  kota kelahirannya, pernikahan, mereka yang tinggal di perbatasan dll. Ada banyak pelajaran dan hikmah yang diambil dari setiap kisah di buku ini.




Di sini saya mau memberikan contoh tulisan saya yang ada dalam buku Stories of Your Life.


Untukmu yang Selalu Berbekas di Hati


Aku sudah kebal jika jadi bahan bully-an teman-teman di kantor  ataupun teman-teman main.
Bayangkan, hanya karena aku berasal dari  kota yang pernah mendadak terkenal se-nusantara karena meme yang dibuat netizen.

Aku tidak marah dengan mereka, hanya jengkel saja.  Aku memaklumi mereka karena mereka tidak tahu tentang tanah kelahiranku dengan baik. Mereka hanya tahu dan melihat dari teve atau internet.
Di sosial media bahkan netizen berlomba-lomba untuk membuat meme tentang kotaku, rasanya perih sekali melihat kotaku di perlakukan seperti itu.


Jika sudah begitu, aku harus bergerak. Aku harus menjadi duta kotaku dan memberikan edukasi ataupun penjelasan kepada mereka yang belum tahu betapa luar biasanya tanah kelahiranku itu.
***
Andai saja pada saat sekolah dulu mereka masuk dan tidak madol setiap pelajaran bahasa indonesia, mereka pasti tidak akan membully kotaku. Mereka harusnya tahu jika penyair kebanggaan negeri ini, Chairil Anwar mengabadikan nama Bekasi dalam puisinya yang fenomenal, Krawang-Bekasi.

Puisi tentang arti pengorbanan para pejuang muda yang sungguh luar biasa semangatnya, gugur dalam membela tanah air di sekitar Krawang-Bekasi dalam melawan penjajah. Tetapi semangatnya tetap menggelora dan abadi.


Andai mereka tahu dan berpikir kembali, pasti mereka akan berpikir seribu kali untuk membully kotaku.

Bahkan penulis legendaris Indonesia yang pernah menjadi nominasi nobel sastra juga membuat novel tentang Bekasi. Di Tepi Kali Bekasi yang di tulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang bercerita tentang sejarah para pejuang yang berjuang di Bekasi dan sekitarnya yang betapa menderitanya mereka pada masa kependudukan Belanda.


Bekasi juga mempunyai gedung bersejarah bernama Gedung Juang 45 yang banyak menyimpan sejarah karena pernah menjadi tempat bagi para pahlawan untuk mempertahankan negara dari penjajahan Belanda.

Dulu, sebelum aku ngekost di Jakarta. Aku harus berangkat kerja dari rumah jam setengah lima pagi. Aku menggunakan kereta ke Jakarta dari stasiun Bekasi. Jujur aku rindu masa-masa itu. Setiap pagi ibuku membangunkanku dan membuat bekal makan siangku. Membuatkan sarapan dan teh hangat. Aku menggunakan motor ke stasiun. Aku sering shalat shubuh di sana. 



Aku menikmati sekali perjalananku ini. Aku tidak sendiri, di stasiun sudah banyak pejuang-pejuang tangguh sepertiku juga. Banyak suka dukanya yang aku dapat dari perjalananku itu. Aku menjadi sekelompok ‘anker’ anak kereta. Dari sengsaranya gencet-gencetan di dalam kereta, sampai untuk menggerakkan tangan saja penuh perjuangan jika gerbong sedang penuh sesak.

Kereta pernah mengalami gangguan di salah satu stasiun hingga harus tertahan. Sampai ada yang kentut di dalam gerbong ketika gerbong sedang penuh-penuhnya. Banyak cerita di dalam kereta, tidak mungkin aku bisa melupakan kotaku tercinta.

Bekasi juga mempunyai pahlawan nasional yaitu KH. Nur Ali yang namanya digunakan di salah satu jalan di kota Bekasi. Beliau adalah pejuang nasional dari Bekasi. Ada juga Kali Bekasi yang menjadi saksi bisu di mana para pejuang yang berguguran, mayatnya dihanyutkan di kali itu oleh tentara Belanda. Mereka rela berjuang demi Bekasi, demi kemerdekaan negara ini.

Infrastruktur di Bekasi sedang berkembang dan terbilang maju. Tidak kalah dengan Jakarta atau kota lain di pinggiran Jakarta. Jika mau melihat oppa-oppa korea datang saja ke Cikarang, Kabupataen Bekasi. Di sana banyak sekali di temui oppa korea, karena di sana ada banyak kawasan  industri yang banyak perusahaan korea, cina dan Jepang di sana.

Di Bekasi juga ada taman makam pahlawan di mana para pejuang dari Bekasi di makamkan di sana.
“Bekasi..berbekas di hati..kota yang membekasi.” kata Pram.

Siapa yang tidak mengenal Kali Malang, sungai buatan yang membelah Bekasi hingga melewati Jakarta ini memiliki sejarah yang lekat dengan Bekasi. Sungai yang sengaja dibuat untuk menyuplai air bersih bagi warga Bekasi hingga Jakarta.

Bekasi dahulu bernama Bhagasasi. Bekasi pada jaman dahulu adalah ibu kota dari kerajaan Tarumanegara.

Di kota patriot ini aku tumbuh dan terus tumbuh menjadi pribadi yang belajar tentang tanah kelahirannya. Waktu kecil aku pernah merasakan menjadi anak yang nakal. Mandi di empang di siang hari, mencari capung dan belalang di kebun milik pak haji yang lapang sampai sore hari dan Ibu menjemputku dengan amarah yang memuncak.


Aku masih ingat ketika setiap malam aku dan teman-taman pergi ke TPA (Taman Pendidikan Al- Qur'an) di dekat rumah. Menghafal satu surah dahulu jika mau pulang cepat. Memijat kaki Pak Haji jika beliau meminta. Bermain petasan jika bulan ramadhan dan semua kenangan indah di tanah kelahiran yang aku rindu.

selesai









Minggu, 07 Oktober 2018

Empat Hari untuk Selamanya (Part III)





(Kemanapun Kaki Kita Melangkah, Pulang Jualah Tetap Tujuan Utama Kita)

Perjalanan kami masih berlanjut ke negara berikutnya. Cerita apa yang kami dapati nanti, kami pun belum tahu. Akankah seru dan  sedikit tragis seperti di Singapura atau bahkan jauh lebih menyenangkan dan bermakna dari sebelumnya. Kami tidak tahu, just let see..

                                                                                         ***

Perjalanan kali ini sepertinya banyak menguras waktu dan emosi. Dari Singapura kami naik bus ke Malaysia tujuan Kuala Lumpur atau KL. Di sana rencananya kami akan di jemput oleh temannya Sun, Hanis. Mereka kenal sewaktu tinggal di Australia.

Perjalanan menggunakan bus ternyata cukup melelahkan juga. Ditambah lagi ketika kami berada di kantor imigrasi Malaysia. Petugasnya banyak yang kurang bersahabat. Orang-orang yang mau masuk ke Malaysia memang banyak dan sudah mengantri dengan tertib. Tetapi tetap saja, sepertinya salah saja kita semua. Dan petugas harus teriak-teriak untuk memanggil atau memberitahukan.

Apesnya, kami berlima juga kena semprot. Dikira lagi ambil fotolah, di suruh rapihin antriannyalah, disuruh majulah. Padahal sudah antri dengan rapih dan mengikuti aturan. Yasudahlah, kami semua harus menjaga mood biar tetap bisa menikmati perjalanan.

Berhubung kami masih lapar, ambillah kami makanan di bagasi dan ngemil secara diam-diam di dalam bus. Perjalanan kurang lebih dihabiskan selama enam jam.  KL dan Jakarta itu sebelas dua belas, sama-sama macetnya. Di sepanjang perjalanan, kami memandang lewat jendela, untuk kondisi jalan dan sekitarnya mirip sekali Indonesia. Jadi berasa kayak lagi pulang kampung naik bus lewat jalur pantura.

Di setiap tempat pemeberhentian atau peristirahatan bus terdapat rumah makan, bagi yang mau ke toilet atau mau ke mushola sudah pasti.
***

Jam delapan kami sampai di KL. Kami tunggu di depan jalan yang mirip perempatan Sarinah, dan itu macet pula. Hanis ternyata sudah standby di sana. Dan ternyata dia sudah menunggu dari jam empat sore. Karena perkiraan dia tidak akan selama ini. Sabar sekali ternyata dia.

Kami diantar menuju parkiran dan segera masuk ke dalam Nissan Navaranya. Sun duduk di depan. Dan kami berempat di belakang. Untung waktu itu badan kami masih kurus. Semua tas kami ditaruh di belakang. Bergegaslah kami berangkat menuju restaurant di sekitar KL karena kami semua sudah lapar sekali.

Kami memutuskan makan di restaurant pinggir jalan yang lokasinya tidak jauh dari Petronas Twin Towers. Makan malam sambil ditemani cantiknya Twin Towers yang gemerlap. Setelah kenyang dan berbincang, kami lanjut menuju rumah pak cik Fuad di Selangor. Lokasi tujuan utama kami ke Malaysia.

Di dalam mobil kami masih mengobrol sambil menemani Hanis menyetir. Kami saling bercerita dan mengenal lebih dekat lagi. Dan Hanis menceritakan bagaimana awalnya bisa bertemu dengan Sun dan pak cik.

Setelah lama mengobrol, satu persatu penumpang belakang tertidur. Wawan mulai tidur di bangku pojok kiri, disusul Mandar disebelahnya, lalu Bagus dan saya di pojok kanan. Tinggalah Sun yang menemani ngobrol Hanis. Biarlah mereka mengenang masa lalunya. Ketika kami sedang tertidur. Si Hanis mulai menunjukkan taringnya.

Sekitar tengah malam kami satu persatu bangun, Hanis mengebut di jalan tol Malaysia yang sepi. Kita semua kaget dan langsung melek lagi. Gila nih, orang. Perawakannya kecil, kalem, rambutnya gondrong dan berkumis. Sekalinya nyetir, bikin kami berlima jantungan.

                                                                                       ***
Jam setengah satu dini hari kami sampai. Sebelum sampai kami sempat tersasar.  Karena gang rumah pak cik kecil dan minim penerangan. Beberapa kali kami salah masuk jalan yang lebarnya hanya bisa dilewati satu mobil. Untung saja di ujung gang pak cik menunggu dengan mobil tuanya. Kami pun diarahkan ke jalan yang benar, yang dirahmati Tuhan Yang Maha Esa.

Keadaan kampung yang temaram, suara jangkrik dan bentuk bangunan rumahnya mengingatkan saya pada rumah si mbah, yang berbeda hanya di bentuk rumahnya yang mengingatkan saya pada rumahnya Upin-Ipin . Sesampainya di rumah pak cik. Kami disambut dengan hangat oleh mak cik, istri pak cik.



Kami memperkenalkan diri kepada pak cik dan mak cik. Mak cik sudah menyiapkan aneka makanan di meja yang sepertinya sudah dingin. Karena estimasi mereka kami akan sampai sekitar jam delapan malam. Ternyata diluar dugaan. Pak cik juga sudah menunggu di sana cukup lama.

Kami merasa jadi tidak enak dan bersalah. Jamuan dari keluarg pak cik sangat hangat sekali. Walau kami menggunakan bahasa Indonesia, pak cik dan mak cik mengerti bahasa kami. Kami semua berbaur, seperti anak yang sudah lama tidak balik ke rumah dan sesampainya di rumah di sambut sangat hangat sekali.

                                                                                      ***
Shubuh kami sudah bangun kembali setelah tidur beberapa jam saja semalam. Yang membuatku heran adalah, waktu shubuh di Malaysia dan Singapura itu selalu sama yaitu jam enam pagi.

Mak cik pagi-pagi sudah bergegas mencari sarapan. Saya dan kawan-kawan diajak menemaninya. Suasana pagi khas kampung di Indonesia sangat berasa sekali. Dan benar saja, setiap pagi itu ada yang jualan sarapan dan gorengan. Kayak penjual nasi uduk kalau di Jakarta. Penjual jual dagangannya di depan rumahnya. Para pembeli berdatangan dan saling mengobrol mirip kayak di Indonesia.

Anyway, yang dijual pun sama kayak di Jakarta, hanya beda nama saja. Ada nasi lemak atau kalau di Jakarta dan sekitarnya biasa menyebut nasi uduk, lauknya juga sama. Dan jajanan pasarnya itu juga sama saja. Ada semacam bakwan, pastel, onde-onde dan lain-lain. Saya lupa namanya apa kalau di sana, padahal waktu itu mak cik cerita.

Kami juga jalan-jalan pagi di sekitaran kampung, yang mirip kampungnya si mbah di Kebumen. Semakin ke sini, semakin terlihat kalau Malaysia itu seperti adiknya Indonesia



Dan yang khas di pagi hari di Kampung Sungai Sireh, Selangor,  Malaysia adalah sajian teh tariknya. Setiap pagi teh tarik ini menjadi minuman wajib orang Malaysia. Berhubung saya tidak suka susu dan ketika coba susunya berasa sekali, maka saya lewatilah secangkir teh tarik hangat yang katanya lezat.

Sambil menyantap sarapan pagi yang banyak ini, kami pun memulai obrolan hangat. Saya dan teman-teman berkenalan, kami saling bercerita seperti sanak keluarga yang sudah lama tidak berjumpa karena ditinggal pergi merantau ke kota.

Pak cik dan mak cik tinggal di rumah berdua saja. Anaknya yang besar sudah menikah dan tinggal di kota. Anaknya yang perempuan sudah menikah dan tinggal tidak jauh dari rumah. Sedangkan dua anak lelakinya yang seumuran kami pergi merantau ke Afrika Selatan karena dapat beasiswa dari negara.


Cerita punya cerita, pak cik dan mak cik itu punya darah Indonesia. Bapaknya pak cik berasal dari Blora, Jawa tengah. Sedangkan kedua orang tua mak cik berasal dari Solo. Maka dari itu mereka sedikit-sedikit bisa bahasa jawa atau mengerti bahasa Jawa. Dan juga Pak cik itu sering bolak-balik ke Jakarta dan ke Jawa karena menghadiri acara taklim. Warga di Kampung Sungai Sireh ini juga kebanyakan keturunan Indonesia, terutama dari Jawa.

Mereka memuji dan kagum sekali dengan Indonesia, apalagi dengan sekolah-sekolah agamanya. Seperti pesantren yang banyak di Jawa. Di Malaysia sedikit pesantren atau sekolah agama. Dan salah satu cita-cita pak cik adalah membangun pesantren di Kampung Sungai Sireh ini dan pergi ke Inggris setelah sehat kembali.

Kalau dari cerita beliau, ternyata enak juga jadi warga negara bekas jajahan Inggris, bebas pergi ke semua negara persemakmuran Inggris tanpa ribet. Seperti pak cik dan Hanis ini.

Jam sepuluh kami pamit dan melanjutkan perjalanan kembali. Suasana haru terjadi ketika kami mau pamit. Entah kenapa pak cik menjadi melankolis dan terasa berat melepas kami. Kami pun dengan berat hati meninggalkan pak cik dan mak cik. Ucapan terima kasih dan doa tidak berhenti mengiringi perpisahan kami. Berdoa agar mereka diberi kesehatan yang paripurna.


Hari ini kami akan kembali ke Kuala Lumpur. Perjalanan masih panjang menuju KL. Dengan suka cita kami siap berpetualang kembali. Sebelum ke KL kami mampir ke Studio Les’ Copaque, itu loh rumah produksi serial kartun Upin-Ipin, dan makan siang di kafe Upin-Ipin.



Setelah kenyang makan siang kami pergi ke store yang jual pernak-pernik Upin-Ipin dan lanjut untuk pergi ke Masjid yang berada tidak jauh dari sana untuk shalat zhuhur. Masjid Sultah Salahuddin Abdul Aziz Shah atau biasa disebut dengan Masjid Biru yang masih berada di Selangor. Masjid ini rupanya mengingatkan saya dengan Masjid yang berada di Bekasi, Masjid Al-Azhar Jakasampurna Kota Bekasi yang mirip sekali dengan Masjid Biru ini.




Shalat zhuhur sudah selesai, dan kami melanjutkan perjalanan ke KL. Sekitar jam empat sore kami sampai di KL dan bergegas pergi ke hotel Revo Packers yang sebelumnya sudah kami pesan. Kami pesan satu kamar yang berisi dua ranjang tingkat untuk semalam. Cukup luas untuk kami tempati berenam.


Setelah shalat ashar dan bersih-bersih kami bergegas pergi ke Twin Towers yang lokasinya tidak jauh dari Hotel kami. Lebih tepatnya kami berempat, Sun dan Hanis pergi ke suatu tempat menemui teman-temannya semasa di Australia.

Walaupun lagi di KL tetapi saya merasa seperti sedang berada di Jakarta. Kawasan Twin Towers mirip kawasan perkantoran SCBD Sudirman. Kami menikmati suasana sore sambil foto-foto di KL. Dan juga kami sempat masuk ke Twin Towers untuk beli snacks. Sambil menunggu Sun dan Hanis, kami berempat pergi jalan-jalan ke Chinatown Petaling Street. Sekalian mau coba LRT (Light Rapid Tansit) di KL yang sebentar lagi akan beroperasi juga di Jakarta.



Setela lelah muter-muter tetapi belum ada yang menarik hati untuk dibeli, akhirnya kami memutuskan untuk makan malam saja. Berhubung banyak tempat makan yang tidak halal, kami memutuskan untuk makan di KFC, lebih aman.

Puas jalan-jalan malamnya, kami kembali ke Petronas Twin Towers dan di sana Hanis dan Sun sudah menunggu. Twin Towers jika di lihat dari dekat dan malam hari nampak lebih cantik. Setelah lelah foto-foto malam hari kami segera kembali ke Hotel naik mobil. Jalan masih macet, sebelas dua belas dengan keadaan jalan Jakarta.



                                                                                             ***
Jam sebelas malam kami sudah di Hotel. Bersih-bersih dan shalat isya. Itinerary yang kami buat cukup membantu walau banyak juga yang keluar dari rencana. Seperti beberapa lokasi yang ternyata banyak yang tidak bisa kunjungi karena waktu yang kita miliki terbatas.

Dan beberapa rencana yang di luar dugaan. Seperti salah booked hotel, hujan turun deras di Singapura, menginap di rumah pak cik yang sebetulnya hanya berkunjung saja tidak pakai menginap, Hanis yang membawa mobil dan menjadi guide kami, perjalanan yang memakan waktu karena macet dan beberapa lagi. Ada yang menguntungkan dan ada yang tidak. Walau begitu membuat itinerary itu benar-benar membantu.

                                                                                            ***
Minggu pagi kami sudah beres-beres, hari ini adalah hari terakhir kami di Malaysia. Jam satu siang kami sudah harus take off dari bandara KL. Jam delapan pagi kami sudah cabut dari hotel. Dan cari breakfast di seputaran KL.



Tidak susah cari rumah makan yang buka. Kami menemukan rumah makan pinggir jalan yang ramai pengunjungnya. Di sana kami pesan roti canai, kari, nasi campur dan teh tarik/manis.

Kenyang sarapan, kami segera bergegas ke Central Market atau Pasar Seni untuk beli oleh-oleh. Kami cari lokasi terdekat karena waktu sudah mepet. Jadi kami hanya punya waktu satu jam untuk beli oleh-oleh. Sementara Hanis menunggu kami di mobil.



Kami membeli beberapa kaos, cokelat dan snacks setelah itu kami langsung menuju parkiran menemui Hanis yang selalu sabar melayani kami. Barang-barang bawaan kami taruh semua di belakang yang ditutupi terpal.

Di jalan, jiwa pembalap Hanis keluar kembali. Dengan kecepatan penuh menuju bandara yang membuat kami heboh di dalam mobil, benar-benar memacu adrenalin. Dan yang membuat khawatir adalah barang bawaan kami di taruh di bak belakang mobil. Suara barang-barang bergerak kedengaran berisik dan kami cemas kalau barang bawaan kami terbang semua ke jalan, 'kan nggak lucu kalau ada kecelakaan di jalan karena ulah barang-barang kami yang terbang di jalan tol dan menabrak kendaraan lain.

Saking cemasnya kami sampai berhenti untuk mengecek keselamatan barang-barang yang tidak seberapa itu tetapi penting untuk kami. Alhamdulilah, barang-barang tidak ada masalah, hanya cokelat yang kami beli banyak yang meleleh.

Hanya dengan cara ini kami semua bisa sampai di bandara sekitar jam dua belas. Di bandara kami berpisah dengan Hanis. Dan mengucapkan banyak-banyak terima kasih karena sudah menjadi ‘pendamping’ dan 'tukang foto' yang sabar untuk kami selama di Malaysia. Tanpamu perjalanan kami tidak semenarik ini. 


Kami masuk ke bandara dengan tergesa-tergesa karena sudah jam dua belas lewat. Tetapi kami masih harus mampir dulu ke Garrett Popcorn karena Mandar kepingin banget beli Popcorn yang lagi hits itu. Dan itu memakan waktu karena kami susah menemukan storenya.

Setelah selesai dengan drama pencarian store berondong jagung mewah itu, ternyata pesawat delay sejam lebih banyak. Menunggulah kami di bandara bersama penumpang yang lain. Sekitar jam dua lebih kami take off. Sampai di Soetta sudah masuk ashar dan kami langsung pergi ke mushola dan cari makan.


Sampai kosan kami isya. Dan petualangan kami selesailah sudah. Rencana perjalanan kami yang unforgettable ini akhirnya terealisasi. Dan sekarang kami bisa memulai untuk pergi ke luar negeri sendiri-sendiri, ke negara impian kami masing-masing yang jelas berbeda tentunya.

                                                                                           ***
Dua bulan berikutnya kami dapat kabar buruk. Mak cik dikabarkan telah berpulang. Berita tersebut mengagetkan kami semua. Waktu kami di rumah pak cik. Mak cik banyak bercerita tentang kesehatan pak cik yang kurang baik karena stroke. Dan mak cik terlihat segar bugar dan telaten merawat pak cik.

Pada intinya kami semua berduka atas kepergian mak cik yang tak terduga itu. Walaupun sebentar, pertemuan kami dengan keluarga pak cik sudah membuka lembaran cerita tersendiri di hidup kami. Selamat jalan mak cik kebaikanmu akan selalu kami ingat.


                                                                             the end



.


Minggu, 25 Maret 2018

Yang Bikin Kangen di Tahun 90’an



Mungkin banyak yang bertanya apa sih generasi 90’an itu? kenapa belakangan ini banyak sekali yang menggaungkan hal-hal berbau generasi 90’an ini. Generasi 90’an, generasi milenial dan generasi Y adalah para manusia yang lahir di tahun 1980-1995 mereka yang hidup di tahun1990an yang merasakan kehidupan di tahun tersebut. Jadi generasi milenial ini adalah orang-orang yang kecil atau remaja di tahun sekitar 90an di mana mereka belum mengenal gadget secanggih sekarang.


Mereka yang hidup dan mengalami masa kecil di tahun 90an menurut penelitian adalah generasi yang paling bahagia. Karena mereka sangat menikmati masa kanak-kanak mereka. Ada banyak hal dan kenangan yang tidak akan pernah bisa di lupakan oleh generasi millenial, di mana tahun 90an adalah masa peralihan ke jaman teknologi yang lebih maju di tahun 2000an atau milenium.

Mereka yang merasakan masa kanak-kanak di tahun 90’an, berarti sekarang sudah besar bahkan ada yang sudah berkeluarga dan melahirkan generasi Z. Waktu kalian  kecil, di tahun 90’an hal-hal apa saja yang kalian ingat? Saya yakin kalian tidak akan pernah lupa masa-masa di tahun 90’an. Di mana yang namanya bermain itu ya memang benar bermain.  Main di luar bersama teman-teman. Main petak umpet, kasti, kelereng dan sebagainya.

                                                                     kaskus.com

Ketika fiilm kartun itu masih banyak di TV. Anak-anak masih mendengarkan lagu-lagu anak bukan lagu cinta-cinta yang sering mengangkat tema, selingkuh, patah hati atau pun pernikahan. Di mana kita bisa sering bermain di luar dengan teman-teman.

Generasi 90an mengklaim diri mereka adalah generasi yang paling bahagia dari generasi yang pernah ada. Sebagai seorang yang pernah merasakan hidup di tahun 90an saya pribadi setuju dengan pernyataan itu. Walaupun banyak juga loh yang tidak setuju dengan itu. Seperti waktu itu ada selebgram yang nyinyirin generasi 90an yang menurutnya generasi 90an itu adalah generasi yang iri dan kalah dengan generasi zaman now. 

Kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk mengenang masa-masa di mana tahun 90an itu adalah tahun yang emas. Ada banyak kenangan yang kita alami yang unforgetable banget di tahun 90an, dari yang banyak itu saya ingin menyimpulkan beberapa kenangan yang ada di tahun 90an.



1. Kangen Marathon Kartun di Hari Minggu

                                                               www.memekocak.my.id


Anak 90an pasti tahu dan pernah nonton kartun di Teve pada hari minggu. Di mulai dari jam lima sampai siang. Urutan yang saya ingat adalah dari jam lima shubuh itu ada Club Disney, Chibu Maruko Chan, Kobo Chan, Doraemon, P-Man, Satria Baja Hitam, Crayon Shinchan, Detective Conan,  Digimon Adventure, Dragon Ball, One Piece, Power rangers dll. Atau kalo di Senin-Jumat ada Sailormoon, Saint Seiya, Captain Tsubasa, Hatchi dan banyak lagi. Sumpah, jadi kangen nih.

2. Kangen Sinetron Jaman Dulu

                                                                         trivia.id


Kalian masih ingat Keluarga Cemara yang tayang sore di RCTI? Kalo ingat dan pernah nonton berarti seharusnya kalian sudah bekeluarga hehe. Kera Sakti yang setiap malam tayang yang bisa jadi alasan saya bolos mengaji. Di tahun 90an itu sinetron tidak tayang setiap hari kayak sekarang biasanya tayang seminggu sekali durasinya juga tidak lama-lama. 30 menit-1 jam.

Kayak sinetron Bidadari yang jadi tontonan wajib di hari minggu malam senin. Apalagi bisa lihat Marshanda, senang banget dah rasanya hehe sebenarnya masih banyak sinetron legendaris seperti Tersanjung yang nggak kelar-kelar, Tersayang (Dulu pernah punya topinya nih hehe), Wah Cantiknya (Itu loh Si Cecep aka Anjasmara dan Tamara Blezinsky) dan masih banyak lagi sinetron-sinetron bagus pada jaman itu.

3. Mainan Anak-anak 90an yang Hits

Nama satu mainan yang ada di otak saya kalau di tanya mainan yang paling oke sampai sekarang adalah Tazos. Waktu itu lagi boomingnya kartun Pokemon (ada juga yang versi Looney Toons) yang tayang di SCTV jaman SD punya banyak Tazos yang di dapat dari snacks Chiki Balls, Chitato, Chitos sama Jet-z (Snack Favo saya waktu kecil, yang rasa paprika) untuk bisa beli snacks ini harus bela-belain sisain uang jajan. 

Selain Tazos ada Tamiya, dulu sempat penyuka Tamiya bahkan sampai di modif segala, ikutan balapan bahkan sampai pernah nyebur ke got, untungnya nggak rusak, Cuma bau aja sih hehe. Tamagochi juga sempat punya, karena dulu nggak bisa ngurusnya akhirnya sakit, mati dan jadi telur lagi. “Sumpah, nggak ngerti gua harus gimana lagi maen Tamagochi.” Ada juga adalah nintendo, sega yang dulu biasanya main di rumah teman. Ada PS aka Play Station mainan canggih yang hits banget di akhir tahun 90an. 

Kalau sudah di rental PS bisa sampai seharian, pulang Cuma buat makan doang, sampai sendal hilang. Winning Eleven, Harvest Moon, Smack Down, CTR dan banyak lagi “Pokoknya main PS itu bisa bikin gua lupa waktu hehe”

Oh ya, jangan pernah melupakan game legend ini, yup, Jimbot atau Brick Game yang bisa ngomong, “Bego lu.. atau Boleh juga lu..” dan yang terakhir adalah Ding-dong yang tidak boleh dilewatkan. Ini dia game yang bisa bikin anak sekolah pada bolos.

4. Permainan Tradisional Anak-anak 90an 
                                                           www.memekocak.my.id
Jika kids jaman now lebih senang bermain di dalam rumah dengan gadgetnya. Beda hal dengan anak-anak yang hidup di tahun 90an. Mereka lebih sering bermain di luar rumah, bahkan sampai di samperin Ibunya sambil bawa sapu lidi kalo sudah mau masuk maghrib saking asyiknya main bareng teman-teman. 

Ada banyak permainan yang tersaji di jaman 90an. Pasti generasi 90an masih ingat, kan. Ada petak umpat, Petak Benteng, Kelereng, Gambaran, Karet (kayaknya waktu itu cowok juga pada suka main karet, jadi yang megangin hehe) terlalu banyak kalau harus disebutkan satu-satu ya. Kalo saya pribadi lebih suka main bola gebok (orang Bekasi biasa nyebutnya begitu) sambil hujan-hujanan, beuh kalo kena badan bisa nyeplak, karena bolanya habis jatuh dari got, sakitnya dapat, senangnya dapat, baunya juga dapat. hehe

5. Kangen Jajanan 90an 


Waktu jaman SD pasti kalian pernah makan lidi-lidian atau makaroni yang pedas dan kayak akan micin, hehe walaupun jaman sekarang juga masih ada dan kemasannya pun beragam dan kekinian. Atau beli martabak telor yang wajannya kecil-kecil dan kita masak sendiri, ya ampun, sekarang masih ada nggak ya. Kalo jajanan warung yang menurut saya fenomenal dan tidak tahu keberadaanya sekarang itu adalah Anak Mas. Ada dua rasa,  rasa Ayam yang asin dan Keju yang asin tapi ada manis-manisnya. 

Jajanan warung juga ada banyak banget sebenarnya, Anak Mommy (sejenis Anak Mas), Choki-choki (sekarang juga masih ada), Kacang Ginja, ada yang masih ingat, nggak? Sejenis kacang sukro tapi warna tepungnya kuning dan asin. Ada juga coklat ayam jago, Chiki Chuba dll. Nggak ada habisnya pokoknya dah kalo ngomongin jajanan jaman dulu. Selain enak juga murah. Pernah merasakan juga beli permen sugus cepek dapatnya empat biji.

6. Lagu Anak-anak 90an itu Buanyaak yang Enak-enak


Masih ingat Bondan Prakoso Si Lumba-Lumba, Enno Lerian yang lagunya Dubi Dubi Damdam atau Nyamuk Nakal, Melisa dengan Abang Tukang Bakso, Maisy Ci Luk Ba, Chiquita Meidy,  Trio Kwek-Kwek, Saskia & Geofany, Agens Monica sampee Sherina masih banyak lagi lagu-lagu anak yang hits di tahun 90an. Jaman dulu acara di Teve itu seimbang antara acara dewasa, remaja, anak-anak dan semua umur. Acara musik anak-anak juga banyak, kalo kalian masih ingat, dulu itu ada acara anak-anak yang dibawakan oleh artis cilik dari Ideal Record (Label musik), yup, Dunia Anak.

Ada juga Ci Luk Ba yang di bawain sama Maisy. Tralala-trilili juga jadi teman kamu sehabis pulang sekolah yang dibawain sama Agnez Mo dan Indra Bekti. Kring-kring O La La dan Bando ya Ampun. Sebenarnya ada banyak acara anak di tahun 90an tapi yang baru saya ingat itu, dulu juga ada acara lagu anak yang dibawain Dhea Ananda di TPI tapi lupa namanya apa, atau di TVRI setiap pagi plus ada acara dongengnya juga, tapi lupa namanya apa kalo nggak salah yang bawain Cantika.
***
Kalau ngomongin hal-hal yang berbau 90an itu memang nggak pernah bakal ada habisnya. Karean 90an itu adalah era transisi dari era tradisional ke era millenium di mana teknologi mulai bermunculan. Untuk kali ini saya cukupkan dulu ya mengenang masa-masa 90an, ingat umur. Hehe






Dua Buku Antologi Penyemangat di Tahun 2018

Desember 2017 lalu saya mencoba ikut lomba cerpen yang diadakan penerbit divapress Yogyakarta. Dari tiga cerpen yang saya ikutkan, alhamd...