Minggu, 28 Oktober 2018

Dua Buku Antologi Penyemangat di Tahun 2018


Desember 2017 lalu saya mencoba ikut lomba cerpen yang diadakan penerbit divapress Yogyakarta. Dari tiga cerpen yang saya ikutkan, alhamdulillah dua lolos. Dan cerpen-cerpen itu dimasukkan ke dalam dua buku antologi bersama para pemenang lainnya yang terbit di pertengahan tahun 2018.

Buku antologi terakhir saya bersama teman-teman FLP Bekasi terbit di tahun 2016. Dari tahun 2016 sampai 2017 saya mulai jarang menulis cerpen. Entah kenapa setelah membaca buku Haruki Murakami berjudul what I talk about, when I talk about running di pertengahan 2017 lalu, saya mulai semangat untuk menulis cerpen lagi.

Tahun 2018 menjadi tahun di mana saya semangat kembali untuk menulis. Apalagi setelah cerpen saya diterbitkan.

Beberapa cerpen saya sudah dikirim ke media lokal tapi masih nihil hasilnya. Dengan diterbitkannya dua buku antologi ini saya seperti mendapatkan energi baru untuk terus menulis cerpen.

1. Parade Kisah Pengguna Ojek Online
Buku ini terbit April 2018. Buku ini berisi cerita dari para penulis yang menang kompetisi dengan tema transportasi online. Di buku ini ada berbagai cerita dari pengalaman si penulis yang bikin pembaca baper.



2.  Stories of Your Life
Buku ini terbit di bulan Juli 2018. Ada dua puluh penulis yang menuliskan kisahnya tentang  kota kelahirannya, pernikahan, mereka yang tinggal di perbatasan dll. Ada banyak pelajaran dan hikmah yang diambil dari setiap kisah di buku ini.




Di sini saya mau memberikan contoh tulisan saya yang ada dalam buku Stories of Your Life.


Untukmu yang Selalu Berbekas di Hati


Aku sudah kebal jika jadi bahan bully-an teman-teman di kantor  ataupun teman-teman main.
Bayangkan, hanya karena aku berasal dari  kota yang pernah mendadak terkenal se-nusantara karena meme yang dibuat netizen.

Aku tidak marah dengan mereka, hanya jengkel saja.  Aku memaklumi mereka karena mereka tidak tahu tentang tanah kelahiranku dengan baik. Mereka hanya tahu dan melihat dari teve atau internet.
Di sosial media bahkan netizen berlomba-lomba untuk membuat meme tentang kotaku, rasanya perih sekali melihat kotaku di perlakukan seperti itu.


Jika sudah begitu, aku harus bergerak. Aku harus menjadi duta kotaku dan memberikan edukasi ataupun penjelasan kepada mereka yang belum tahu betapa luar biasanya tanah kelahiranku itu.
***
Andai saja pada saat sekolah dulu mereka masuk dan tidak madol setiap pelajaran bahasa indonesia, mereka pasti tidak akan membully kotaku. Mereka harusnya tahu jika penyair kebanggaan negeri ini, Chairil Anwar mengabadikan nama Bekasi dalam puisinya yang fenomenal, Krawang-Bekasi.

Puisi tentang arti pengorbanan para pejuang muda yang sungguh luar biasa semangatnya, gugur dalam membela tanah air di sekitar Krawang-Bekasi dalam melawan penjajah. Tetapi semangatnya tetap menggelora dan abadi.


Andai mereka tahu dan berpikir kembali, pasti mereka akan berpikir seribu kali untuk membully kotaku.

Bahkan penulis legendaris Indonesia yang pernah menjadi nominasi nobel sastra juga membuat novel tentang Bekasi. Di Tepi Kali Bekasi yang di tulis oleh Pramoedya Ananta Toer yang bercerita tentang sejarah para pejuang yang berjuang di Bekasi dan sekitarnya yang betapa menderitanya mereka pada masa kependudukan Belanda.


Bekasi juga mempunyai gedung bersejarah bernama Gedung Juang 45 yang banyak menyimpan sejarah karena pernah menjadi tempat bagi para pahlawan untuk mempertahankan negara dari penjajahan Belanda.

Dulu, sebelum aku ngekost di Jakarta. Aku harus berangkat kerja dari rumah jam setengah lima pagi. Aku menggunakan kereta ke Jakarta dari stasiun Bekasi. Jujur aku rindu masa-masa itu. Setiap pagi ibuku membangunkanku dan membuat bekal makan siangku. Membuatkan sarapan dan teh hangat. Aku menggunakan motor ke stasiun. Aku sering shalat shubuh di sana. 



Aku menikmati sekali perjalananku ini. Aku tidak sendiri, di stasiun sudah banyak pejuang-pejuang tangguh sepertiku juga. Banyak suka dukanya yang aku dapat dari perjalananku itu. Aku menjadi sekelompok ‘anker’ anak kereta. Dari sengsaranya gencet-gencetan di dalam kereta, sampai untuk menggerakkan tangan saja penuh perjuangan jika gerbong sedang penuh sesak.

Kereta pernah mengalami gangguan di salah satu stasiun hingga harus tertahan. Sampai ada yang kentut di dalam gerbong ketika gerbong sedang penuh-penuhnya. Banyak cerita di dalam kereta, tidak mungkin aku bisa melupakan kotaku tercinta.

Bekasi juga mempunyai pahlawan nasional yaitu KH. Nur Ali yang namanya digunakan di salah satu jalan di kota Bekasi. Beliau adalah pejuang nasional dari Bekasi. Ada juga Kali Bekasi yang menjadi saksi bisu di mana para pejuang yang berguguran, mayatnya dihanyutkan di kali itu oleh tentara Belanda. Mereka rela berjuang demi Bekasi, demi kemerdekaan negara ini.

Infrastruktur di Bekasi sedang berkembang dan terbilang maju. Tidak kalah dengan Jakarta atau kota lain di pinggiran Jakarta. Jika mau melihat oppa-oppa korea datang saja ke Cikarang, Kabupataen Bekasi. Di sana banyak sekali di temui oppa korea, karena di sana ada banyak kawasan  industri yang banyak perusahaan korea, cina dan Jepang di sana.

Di Bekasi juga ada taman makam pahlawan di mana para pejuang dari Bekasi di makamkan di sana.
“Bekasi..berbekas di hati..kota yang membekasi.” kata Pram.

Siapa yang tidak mengenal Kali Malang, sungai buatan yang membelah Bekasi hingga melewati Jakarta ini memiliki sejarah yang lekat dengan Bekasi. Sungai yang sengaja dibuat untuk menyuplai air bersih bagi warga Bekasi hingga Jakarta.

Bekasi dahulu bernama Bhagasasi. Bekasi pada jaman dahulu adalah ibu kota dari kerajaan Tarumanegara.

Di kota patriot ini aku tumbuh dan terus tumbuh menjadi pribadi yang belajar tentang tanah kelahirannya. Waktu kecil aku pernah merasakan menjadi anak yang nakal. Mandi di empang di siang hari, mencari capung dan belalang di kebun milik pak haji yang lapang sampai sore hari dan Ibu menjemputku dengan amarah yang memuncak.


Aku masih ingat ketika setiap malam aku dan teman-taman pergi ke TPA (Taman Pendidikan Al- Qur'an) di dekat rumah. Menghafal satu surah dahulu jika mau pulang cepat. Memijat kaki Pak Haji jika beliau meminta. Bermain petasan jika bulan ramadhan dan semua kenangan indah di tanah kelahiran yang aku rindu.

selesai









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

10 Film Terbaik dari Studio Ghibli yang Wajib Ditonton selagi masih Hidup

(sumber gambar; geek.com) Bagi penggemar film, anime, atau J-Culture pasti sudah tidak asing dengan yang namanya Studio Ghibli. ...