Minggu, 18 Februari 2018

Fiksi Mini





Kartu Busway

Seorang Bapak tua seperti sedang kebingungan berdiri di depan pintu masuk halte busway.
"Mau masuk, Pak?" Tanyaku ramah. Ah, aku mendadak teringat Bapak di rumah.

"Iya, Mba. Tapi Bapak ndak punya kartu."
Ternyata Bapak ini baru pertama kali naik busway dan tidak tahu jika sekarang untuk naik busway harus menggunakan kartu.

Aku pinjamkaan kartuku dan Bapak itu pun masuk sambil memberikan banyak ucapan terima kasih kepadaku.
***

"Sekarang naek busway ntu kudu pake kartu ya, Neng?" Tanya Bapakku sambil menyeruput kopi hitamnya.

"Iya. Udah lama. Emang napa, Pak?"
Semenjak bekerja dan ngekost di Jakarta, tiap dua minggu sekali baru aku bisa pulang ke rumah di Cikarang.

"Minggu maren, Bapak sama Bang Roji ke Kota Tua. Mau nyoba naik busway nggak bisa. Katanya harus pake kartu, kita bedua mah nggak gablek begituan. Untung ada Mba-Mba seumuran lu, Neng. Minjemin kartu. Jadi bisa masuk dah kita."



Minggu Siang
Minggu siang, aku melewati jembatan penyeberangan.
Seorang bapak yang terduduk sambil menyapu jembatan penyeberangan, menengadahkan tangan kanannya ke arahku. Tangan kirinya memegang sapu bergagang pendek.

"Maaf, Pak." Aku hanya tersenyum sambil mengisyatkan dengan tangan pertanda 'tidak.'
***

Tengah malam, aku melewati jembatan penyeberangan itu kembali.
Di sudut jembatan penyeberangan, aku melihat bapak itu lagi. Terduduk sambil menunduk.

Aku melewatinya, dia terlihat sibuk. Pandanganku tertuju pada sesuatu yang ada di hadapannya.
Uang dengan berbagai nominal terhampar banyak sekali. Terlihat pecahan seribu rupiah sampai sepuluh ribu rupiah.

Aku berlalu, tetapi Bapak itu masih sibuk menghitung, tidak peduli denganku dan angin malam yang mulai menyerang.





Halte


Bus ke Bekasi sudah datang. Halte BNN nampak lengang di minggu siang ini.
Aku menuruni anak tangga, agar mempercepat gerakku, headset yang dari tadi terpasang di telingaku aku lepas dan memasukkannya ke dalam ransel bersama handphone yang ku pegang.

Di depan anak tangga terakhir, berdiri seorang bapak. Tersenyum ke arahku. Aku pun membalasnya dan berlalu.

Bus masih menunggu, aku berhasil naik beberapa detik sebelum meninggalkan halte.
Aku terduduk lega karena berhasil mendapat tempat duduk. Ku pindahkan posisi ransel kepangkuanku.
Ranselku terbuka, headsetku menggantung dan handphoneku raib.

Empat Hari untuk Selamanya (Part III)

(Kemanapun Kaki Kita Melangkah, Pulang Jualah Tetap Tujuan Utama Kita) Perjalanan kami masih berlanjut ke negara berikutn...