Jumat, 29 Desember 2017

Empat Hari untuk Selamanya (Part II)


(Karena Bersama, Tidak Selamanya Sama)
Di Part I, saya dan teman-teman salah pesan kamar. Di tengah kondisi yang masih lelah, kami semua mendadak diam. Mencoba tenang sambil mencari jalan keluar.






Daripada kami berdiam di sini, kami memutuskan untuk keluar dan pergi mencari Masjid untuk shalat ashar. Selama di Singapura, google maps itu sangat membantu kami sekali. Untuk PIC pengarah jalan kami adalah Bagus. Melalui handphonenya kami benar-benar terbantu mencari lokasi dan mendapatkan informasi. Sebenarnya handphone kami bisa, tapi yang cuma terisi paket internet hanya Bagus saja.


Perihal kesalahan pemesanan hotel itu menjadi awal kerikil ujian untuk kami. Kami mencoba bersikap santai. Di sepanjang jalan kami menikmati sekali kebersamaan sambil memikirkan bagaimana nantinya. Tidak jauh dari sana kami menemukan masjid (lupa nama masjidnya) tidak terlalu jauh dari Hongkong Street. Bangunan berukuran sedang itu rapih dan bersih. Berada persis di antara gedung-gedung.

Orang Singapura sangat berhemat sekali dengan air. Ketika saya mengambil wudlu, air yang yang keluar kecil sekali. Dan banyak informasi tentang penghematan air. Pantesan air minum di sini mahal banget.


Dan yang membuat Masjid ini sama dengan Masjid yang ada di Indonesia adalah selepas Isya, masjid ini akan di tutup sampai nanti masuk shubuh. Padahal tadi berencana (lebih tepatnya sih, Si Sun) mau tidur di Masjid, tapi pupus sudah deh rencananya dia.

Setelah shalat Ashar kami mengatur rencana di teras Masjid, di sana berdiri mesin minuman. Di sebelah saya ada seorang Bapak asli Singapura. Bapak itu mengajak ngobrol saya. Dia tahu kalau kami dari Indonesia karena dia dengar kami ngobrol pake kata Gua, Elu hehe

Dia bilang, dia keturunan Indonesia dan sering ke Jakarta. Mereka puji kami karena berani main jauh ke Singapura. Dan akhirnya kami ngobrol banyak dengan dia. Di tengah obrolan kami, datang segerombolan anak kecil dengan sepedanya dan langsung menuju mesin minuman. Mengalihkan perhatian kami dari Bapak itu. Mereka dengan santai memencet tombol dan keluarlah segelas Milo panas dan dingin. Setelah habis, mereka langsung kabur begitu aja. Edan.

Teman-teman kayaknya fokus ke bocah-bocah itu dan menatap heran. Pasti berpikir kompak, “Nggak bayar, gratis.” Dengan cepat mereka semua pergi ke mesin minuman dan melakukan seperti yang bocah-bocah tadi lakukan. Hanya aku yang tidak ambil, awalnya.

Karena aku lihat ada kotak di sebelah mesin itu. Tertulis Amal seikhlasnya untuk yang minum, intinya sih begitu. Kayaknya mereka tidak lihat, karena panca inderanya telah dibutakan oleh mesin minuman penggugah dahaga.

Setelah fresh karena Minum milo, saya pilih kopi hitam akhirnya. Tergoda melihat mereka minum. Kami pun akhirnya pesan hotel di traveloka. Dan kami dapat hotel murah. Setelah minuman habis, kami pamit ke Bapak.

Kami berjalan kaki menuju hotel yang lokasinya tidak jauh dari hotel sebelumnya. Di tengah jalan saya bilang ke mereka.
“Eh guys, tadi itu kita harusnya bayar loh. Di sebelah mesin kan ada kotak amal. Itu tuh kotak untuk orang yang abis minum, seikhlasnya tulisannya.”
“Iya, tadi gue juga liat sih. Tapi anak kecil itu nggak bayar. Ya udah gue juga ikutan deh.” Mandar menambahkan. Mereka bertiga terdiam.

“Kok kalian berdua nggak kasih tau, sih. Bapak-bapak tadi juga nggak bilang. Kalo tau gitu kan tadi kita nggak usah ambil.” Sunandar memasang wajah bersalah. Wawan dan Bagus bersikap biasa.
“Ini pertanda, guys. Kayaknya suatu saat nanti kita harus ke sini lagi. Bayar minuman yang kita minum.” Timpal Sun, serius.
Kami semua hanya mengangguk.

***
Akhirnya kami menginap di City Backpackers. Setelah selesai mengurus perhotelan. Kami pun segera berbenah mengatur tempat tidur. Satu kamar terisi lima orang. Ada tiga tempat tidur tingkat. Rencana kami, setelah maghrib kami akan melanjutkan ke Universal Studio.


Kami berjalan kaki melewati Riverside yang gemerlap di malam hari dan beberapa kali mengambil foto. Malam ini cerah dan cuaca seperti ini memang yang kami harapkan. Karena tadi sore cuaca mendung dan gerimis.

Kam juga melewati lorong yang dindingnya penuh dengan gravity warna-warni dan ada dua musisi jalanan memainkankan gitar. Sekitar jam delapan kami keluar. Karena kami belum makan, di tengah jalan kami membeli makanan terlebih dahulu di mini market. Ada pemandangan yang menakjubkan di sini. Ternyata kasir dan pramuniaganya penyandang disabilitas. Salah satu kehebatan negara tetangga kita ini yang tidak ada di negara kita. Sun juga bilang kalau di Australia menerima para pekerja disabilitas.


Setelah naik MRT dari Clarke Quay kami turun di stasiun Harbour Front di dalam mall Vivo City. Sebenarnya kami tinggal naik ke lantai tiga menuju Monorail tapi kami malah keluar dan bingung. Di sini kami stuck. Google maps menjadi membingungkan. Saya melihat di sini emosi kami dimainkan. Mungkin karena lelah hasil dari efek berjalan dan berpikir mencari arah.





Kami sudah kayak sedang bermain mencari jejak. Ada Map di tangan dan google maps di genggaman. Si Sun meyakinkan, untuk lewat sini. Si Bagus, menurut google maps lewat sana. Wawan dan Mandar masih tenang dan bercanda-canda berdua. Dan saya coba menengahi semua ini.
Rencananya kami ingin naik Monorail. Dan setelah sampai di sana, dengan bertanya tepatnya. Pilihan kami yang bijak. Akhirnya kami ketemu tetapi tutup.

Akhirnya kami beralih untuk naik Bus. Di dekat stasiun ada terminal dan kami ke sana. Menurut google maps kami harus ke sana untuk menuju Universal Studios di pelang stop RWS 8. Kami sudah lelah, sudah malam.

Kami cari kok tidak ketemu. Padahal kami sudah di halte. Dan kami kembali bertanya ke orang yang ada di sana. Ibu-ibu dan keluarganya. Ketika kami tanya, ternyata mereka dari Jakarta dan baru turun dari bus ke Universal Studio. Pikir saya, berarti untuk naik di halte sebelah. Tetapi ibu itu di tanya malah bingung. Hadeuh.


Setelah mendapat informasi dari sumber terpercaya. Kami seharusnya menunggu di halte sebelah, RW 8. Karena ada dua halte di sini. Bersebelahan. Tidak lama bus datang, kami masuk dan berangkat. Tidak lebih dari dua dolar kalo nggak salah ongkosnya. Uang untuk transport dan yang menyangkut urusan bersama saya yang pegang.


Perjalanannya tidak sampai dua puluh menit. Dan sekitar jam sepuluh kami sampai. Sudah sepi. Universal Studio sudah tutup. Kami semua hanya bisa ketawa lega. Sukses menyelesaikan permainan mencari jejak. Yang bisa kami lakukan hanya berfoto-foto sampai puas, duduk-duduk sambil ngemil dan lanjut pulang ke hotel.

***
Tidak jauh dari hotel tempat kami menginap, kami mampir ke warung nasi lemak di pinggir jalan. Kami berlima pesan nasi lemak yang rasanya B aja. Kesempatan ini kami habiskan untuk mengobrol dan membicarakan rencana kami besok. Pergi ke Merlion, shalat jumat di Masjid Sultan, Kampung Arab dan ke Bugis Street membeli oleh-oleh dan pergi ke terminal untuk naik bus ke Malaysia.


***
Hari jum’at, hari kedua kami di Singapura.
Setelah menikmati breakfast roti panggang gratis sampai puas, kami pun melanjutkan perjalanan ke Merlion. Setelah keluar hotel, sesuatu yang tidak diharapkan terjadi. Gerimis datang. Selama di Singapura MRT itu memang sangat membantu dan kartu MRT itu berguna sekali untuk para traveler.
Sekitar jam delapan pagi hujan turun.



Membuat kami beberapa kali meneduh.ketika hujan berhenti kami memutuskan untuk membatalkan pergi ke Merlion dan beralih ke Museum of Singapore. Padahal kurang afdol kalo ke Singapura tidak ke Merlion. Kami berpikir sepertinya ini itu the signs untuk kami agar di kemudian hari kami bisa ke sini lagi. hehe

Setelah itu kami lanjut ke kampung Arab untuk shalat di Masjid Sultan. Ada kejadian menarik di sini. Setelah shalat jumat pihak masjid memberikan sekotak nasi kepada jamaah dan segelas jus jeruk. Subhanallah, luar biasa Singapura itu.

Dari Masjid Sultan ke Bugis Street kami jalan kaki. Di sepanjang jalan, warung makan buka dan dipenuhi oleh banyak orang yang ingin makan siang. Dan beberapa kali saya melihat warung yang menjual masakan Indonesia. Luar biasa.

Beberapa meter dari Bugis Street hujan turun, kami terpaksa berteduh kembali. Tetapi kami memutuskan menerebos hujan agar waktu tidak habis karena menunggu. Moment ini yang tidak akan pernah terlupakan buat saya. Dari pagi kami beberapa kali menerobos hujan sambil berjalan kaki. Berbasah-basahan bareng-bareng penuh ketawa sambil ngobrolin negara ini yang luar biasa, kok bisa? Tetangga kita loh?

Walaupun ini adalah pertama kali kami ke sini. Tapi kami seperti merasa ada di Jakarta, hanya lebih rapih, bersih dan maju. So, kalo nanti kami ke sini lagi. sendiri-sendiri pun nggak masalah.
Rencana kami hanya membeli oleh-oleh sekedarnya. Dan pada kenyataanya kami malah membeli banyak. Dari cokelat yang murah meriah, kaos sampai tas. Edan.

Selesai kami belanja hujan masih belum berhenti. Kami memutuskan untuk makan siang di restaurant fast food. Sambil menunggu hujan reda dan mengganjal perut karena lelah belanja. Meja sebelah terisi barang belanjaan kami. kolong meja juga penuh. Sumpah kami ketawa melihat ini semua. Tidak disangka belanjaan kami banyak juga. Padahal sih murah-murah semua. Hehe

Setelah kenyang makan, hujan berhenti kami pun meneruskan ke terminal naik bus. Jam tiga kami berangkat. Di terminal kami membeli bekal untuk makanan kami di bus. Selama kami di Singapura kayaknya kami lebih banyak menggunakan bahasa melayu dari pada Inggris. Karena mereka juga mengerti bahasa Indonesia.


Bus yang kami tumpangi terlihat bagus dan nyaman. Para penumpang belum boleh masuk, padahal busnya sudah ada. Jadi menunggu supirnya dulu. Kami terpaksa menunggu di luar. Ketika supirnya datang, supir itu menyuruh kami masuk dengan suara keras dan lantang. Pokoknya kurang bersahabat deh nih supir. Kami tidak boleh bawa makan ke bus ternyata. Barang-barang kami di taruh di bagasi dan dia lihatin kami sambil ngomel agar cepat.


Apesnya, kami duduk di belakang Pak Supir yang kerjaanya ngedumel sepanjang jalan.
Penumpang yang duduk di belakang, seorang perempuan yang beberapa kali kena semprot karena lama. Fiuuh.. Perjalanan kami ke Malaysia masih panjang. Sekitar empat jam kami baru sampai. Jadi, kami harus mengatur mood agar tidak berantakan dan istirahat untuk mencharge tenaga.
to be continued




Empat Hari untuk Selamanya (Part III)

(Kemanapun Kaki Kita Melangkah, Pulang Jualah Tetap Tujuan Utama Kita) Perjalanan kami masih berlanjut ke negara berikutn...