Minggu, 15 Oktober 2017

Empat Hari untuk Selamanya (Part I)


 (Lima Jiwa Satu Tujuan)


Akhir tahun 2016 saya and The Dreamers Ganks, Sun, Wawan dan Mandar, berencana melakukan Backpacker ke luar Indonesia, ke tiga negara, Singapura, Malaysia dan Thailand. Rencana ini sebenarnya sudah pernah kami buat dua tahun lalu, dan belum terealisasi karena beberapa hal. Padahal saya sudah buat passport itu di 2014. Manusia memang hanya bisa berencana, walau akhirnya tetap Tuhan yang menentukan.
Awal januari kami mulai manabung untuk membeli tiket. Uang dikumpulkan di Mandar. Awal bulan Maret kami harus berburu tiket budget airlines. Kami  memutuskan berangkat tanggal 11 Mei 2017, hari kamis.  Hanya empat hari, dengan rencana tiga negara, apa bisa?

Pertengahan awal januari kami kedatangan member baru. Dia teman baru saya, baru kenal juga di trip Kubbu akhir tahun lalu, waktu ke pulau semak daun. Dengan usaha dan selusin penjelasan serta rayuan kepada mereka akhirnya saya bisa meyakini ke tiga sahabat saya itu. Bagus (nama member baru)  diterima dan masuk The Dreamers Ganks, congratulations dude.. #overacting #lupakan

Perjalanan ini nantinya bisa di bilang cukup matang dari segi persiapan. Walaupun hanya empat hari, kami sudah mempersiapkan segalanya, dari itinerary, pembagian tugas per member, sampai jadwal meet up yang hampir setiap minggu. Kedengerannya sih ribet benget ya, wong cuma ke negara tetangga doang, sebentar lagi, tapi udah kaya mau ke Eropa setahun.


Mungkin karena kami berempat belum pernah ada yang keluar negeri, dan  hanya Sun yang sudah pernah dan setteled setahun di benua hijau. Dan juga untuk membuat chemistry kami berjalan lancar dan baik, karena menyatukan ide dari lima kepala menjadi satu bukan hal mudah walaupun kami sudah kenal baik sebelumnya.

Pertemuan berikutnya kami memutuskan ulang tujuan kami dan sepakat untuk ke Singapura dan Malaysia saja, kami 'membuang' Thailand. Dengan alasan waktu yang tidak memungkinkan untuk mengeksplore tiga negara dalam waktu empat hari. Oh iya, kami menukar uang di Ayumas Agung, Money Changer di daerah Kwitang, di dalam toko buku Gunung Agung, di sini terkenal karena ratenya bagus.

***

Setelah menunggu selama lima bulan, akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Kami boarding pukul 12.00 siang dan landing pukul 02.15 siang. Sesampainya di Changi yang megah, saya langsung pergi ke toilet, dan memang benar bersih. Bagi yang mau BAB di sini, siap-siap harus memakai tissue ya untuk bersih-bersihnya. Berhubung kami belum shalat zhuhur, kami pun bergegas mencari mushola. Kami mencoba berjalan di escalator buat pejalan kaki untuk kali pertamanya saya dan ketiga sahabat mencoba ini.



Bandaranya megah, berasa ada GI (Grand Indonesia) di dalam bandara hehe (mulai norak deh gue). Tidak lama kami menemukan Mushola dan lima belas menit kemudian kami pergi untuk cari makan siang. Menurut saran Sun, kami lebih baik makan siang di Staff Canteen bandara karena jauh lebih murah. Dan benar saja makanan di sini memang jauh lebih murah dibandingkan dengan yang ada di dalam bandara bahkan sama public foodcourt pun masih tetap lebih murah di sini.

Di staff canteen pun yang jual banyak kok, jadi nggak usah khawatir. Sesampainya di sana, setelah muter-muter nyari menu makanan, dan bingung juga. Akhirnya kami kompak memilih menu Ayam Penyet dan Air Mineral, benar-benar backpacker dan Indonesia banget. Penjualnya orang kita euy, dari kalimantan asal jawa. Saya lupa nama Ibunya, yang jelas ibu itu baik dan kami juga ngobrol bareng. Oh iya, ibu itu sudah sepuluh tahun di Singapura. Luar biasa.



Harga satu porsi ayam penyet adalah $ 6  dan air mineral 600 ml $ 1.40 sekitar tujuh puluh ribuan sekali makan. Kalo di Jakarta, makan ayam penyet pinggir jalan pasti udah kenyang banget tuh hehe. Setelah makan kami di antar Ibu (Bukan Ibu yang ada di Pengabdi Setan ya guys hehe) penjaga kedai ayam penyet, ke bagian imgrasi, cek passport.

Dia mau sekalian pulang juga katanya. Dan Ibu juga menyarankan untuk isi ulang botol air minum. Lumayan lah, karena air mineral di sini mahal banget. Setelah antri mengantri di imigrasi, kami lanjut naik skytrain menuju terminal 2 naik MRT (Mass Rapid Transit) menuju kota. Skytrain hanya terdiri dari dua gerbong dan langsung melesat menuju terminal 2.

Rencananya kami mau ke daerah Clarke Quay dan lanjut jalan kaki menuju Hostel kami di Hongkong street. Beli tiketnya kami menggunakan mesin yang sudah tersedia, mudah ternyata guys. Cukup $ 5 saja. Dan nanti dapat kartu yang bisa dipakai enam kali. Kurang lebih kayak mesin tiket commuterline yang ada di Jakarta.

Di dalam stasiunnya rapih sekali. Segalanya serba teratur. Dan orang-orang di sana hampir sama sekali tidak bersuara atau mengobrol. Mereka asyik dengan gadgetnya masing-masing. Seperti layaknya orang-orang yang tinggal di negara maju. Urusanmu bukan urusanku dan urusanku juga bukan urusanmu. Sepertinya saya jatuh cinta dengan negara ini.

Petunjuk di sini sangat jelas sekali, jadi kemungkinan kecil sekali kita bakal bingung. Papan petunjuknya juga menggunakan selain bahasa Inggris, ada melayu juga. Dan kita juga nggak usah khawatir, kalo kita nggak bisa bahasa Inggris, mereka ngerti kok bahasa kita (Indonesia).
Tapi rasanya sayang deh kalo kita nggak practice bahasa Inggris kita di sini, So, let’s speaks english together lah. Ala Singlish.

***

Akhirnya kami sampai di Clarke Quay dan lanjut jalan ke kaki menuju Hongkong Street. Sambil jalan kaki kami foto-foto. Orang-orang di Singapura sangat teratur dan mematuhi rambu-rambu lintas sekali.


Tidak lama kami sampai di Hostel. Untuk urusan pembelian tiket pesawat dan hostel mandar yang mengurus. Jadi semuanya sudah kami percayakan ke dia. Setelah kami check in, ternyata kamar yang kami tempati hanya untuk dua orang saja. Menurut dia, sebelumnya dia sudah booked untuk satu kamar, yang akan cukup untuk lima orang.  Dan kami pun sudah diberi tahu. Ternyata yang dimaksud adalah kamar ini memang cukup untuk lima orang, tetapi hanya bisa digunakan untuk dua orang saja. Mandar mengira kalau dengan harga dua orang bisa ditempati lima orang.

Berhubung dia perempuan sendiri, tidak mungkin kalau salah satu dari kami sekamar dengan dia. Kami berembug kembali, Mandar memasang muka pucat dan nggak berhenti-henti ngucapin kata maaf ke kami. Dalam keadaan capek kami mendadak diam. Berpikir sejenak.
Fiuuh... cobaan pertama kami.

To be continued...












Empat Hari untuk Selamanya (Part III)

(Kemanapun Kaki Kita Melangkah, Pulang Jualah Tetap Tujuan Utama Kita) Perjalanan kami masih berlanjut ke negara berikutn...