Rabu, 23 Agustus 2017

Jujurlah, Minimal Kepada Diri Sendiri




Terkadang kita memang harus keras kepada diri sendiri. Jujur tentang perasaan yang sedang kita rasakan. Dan berani untuk mengambil resiko dalam keputusan yang kita buat.

Tidak mudah melakukan itu semua. Tetapi bukannya tidak bisa dilakukan. Terkadang pula kita harus dimasukkan dulu ke dalam peristiwa yang membuat kita terbelalak, gelagapan lalu tersadar.

Peristiwa yang membuat kita berani, berani untuk jujur, jujur terhadap diri kita sendiri. Kita manusia biasa, lelah jika harus terus berpura-pura. Kita harus berani, berani membuat keputusan walaupun kita harus dibenci orang-orang disekitar kita.

Kita bukan dia, kita bukan mereka. Jangan pernah membanding-bandingkan diri kita dengan orang lain. Kita tidak harus mengikuti mereka, kita tidak harus sama. Mempunyai prinsip hidup. Mempunyai pegangan hidup yang kuat. Berani, berani menerima resiko. Berani jujur, berarti berani dan siap untuk dibenci. Setidaknya kita sudah jujur, tidak membohongi.

Bukannya berani jujur itu hebat. Jujur untuk sesuatu yang benar memang kita punya alasan. Kita pasti punya alasan untuk setiap keputusan yang kita buat. Peduli amat orang mau bilang apa.

Kita juga harus siap menerima segala macam bentuk reaksi dari luar. Itu resiko, bukannya hidup itu penuh dengan resiko. Di sanalah letak keberanian dan kejujuran kita, berani mengambil resiko yang tak tau apa bakal terjadi.

Manusia itu memang harus dihadapkan masalah yang pelik terlebih dahulu, agar mereka tersadar. Tuhan pasti tahu. Makanya Dia memberikan itu, ujian. Agar kita menjadi manusia yang lebih baik lagi. Tahan banting, tidak cengeng dengan keadaan.

Dan yang terpenting adalah berani, berani jujur dan berani mengambil keputusan. Mereka yang sudah berani memilih, mengambil keputusan dalam hidupnya adalah manusia yang hebat. Tidak peduli itu keputusan benar atau salah di mata awam manusia.

Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah. Semua itu bisa ternilai, tergantung oleh sudut pandang siapa. Karena setiap orang punya sudut pandangnya masing-masing. Manusia tidak pantas menghakimi manusia lain. Yang pantas hanya Dia, Tuhan.

Beranilah jujur kawan, setidaknya pada diri sendiri. Karena kita bukan Nabi atau orang suci yang bisa membuat semua orang suka dengan kita.



Jakarta, 2017



Jernihkan Fikiran dan Hati

Tahan, dan cobalah tenangkan hatimu. Jangan sampai hanya karena satu dua kesalahan, kamu melupakan banyak kebaikan yang pernah dibuat...