Kamis, 01 Desember 2016

Mengenal Lebih Dekat Suku Baduy



Mengenal Lebih Dekat Suku Baduy 



Hari sabtu pagi, tanggal 10 September. Saya dan teman-teman dari Backpacker Jakarta pergi ke Banten, lebih tepatnya kami akan mengunjungi  Suku Kanekes atau biasa disebut Suku Baduy.  Siapa yang nggak kenal Suku Baduy, salah satu suku di Indonesia yang berada disebelah Barat pulau Jawa ini sangat terkenal.
Kami berangkat dari Stasiun Tanah Abang jam sembilan menuju Stasiun Rangkas Bitung, Banten. Perjalanan kami tempuh tidak lama, kurang lebih dua jam. Sesampainya di Stasiun Rangkas Bitung. Kami langsung ke Terminal yang berada nggak jauh dari Stasiun. Setelah makan siang kami berangkat menuju Baduy menggunakan Mobil Elf yang kami sewa.
Perjalanan kami tempuh sekitar dua jaman lebh. Perjalanannya cukup seru karena memasuki jalan yang kanan kirinya masih banyak pepohonan dan jalannya cukup berliku, turun naik. Sepanjang jalan hujan turun. Kami agak sedikit risau nih. Karena setelah sampai nanti kami akan melakukan Trekking sekitar dua jaman lebih.
Syukurlah, setelah sampai di pintu masuk Baduy luar sore dan hujan pun reda. Kami sempat beres-beres sebentar sambil menunggu datangnya Guide kami. Ada dua Guide kami yang mereka memang asli orang Baduy. Pertama ada Kang Mul, masih muda, umurnya sekitar 18 tahun dan dia berasal dari Suku Baduy Luar dan juga ada Bapak Nalim yang berasal dari Baduy Dalam yang nanti rumahnya akan menjadi tempat bermalam kami.
Oh ya, Baduy Luar dan Baduy Dalam itu berbeda loh.  Perbedaanya bisa terlihat dari pakaian yang dikenakan Suku Baduy Luar berwarna Hitam dengan ikat kepala putih dan Baduy Luar itu sudah tidak sepenuhnya mengikuti peraturan adat contohnya mereka sudah menggunakan listrik dan yang nampak jelas adalah banyak yang sudah berpakain seperti kita (memakai kaos, sandal dan semacamnya) dan jangan salah Kang Mus itu aktif loh di Sosial Media  coba aja kepoin Ignya @mulyono_nasinah. Jadi selama masih dilingkungan Suku Baduy Luar kita masih boleh menggunakan Handphone dan mengambil gambar disana.
Sedangkan untuk Suku Baduy Dalam untuk pakaian yang dikenakannya berwarna putih dengan ikat kepala putih. Tidak beralas kaki dan masih menjunjung tinggi peraturan dan hukum adat. Mereka tidak menggunakan listrik dan peralatan elektronik. Jadi jika kita masuk ke area Suku Baduy Dalam kita tidak diperbolehkan menggunakan alat-alat elektronik, Handphone, menyalakan lampu ataupun menggunakan bahan-bahan kimia ketika mandi disungai seperti sabun, shampo dan odol. Jadi kita tidak bisa mengambil gambar atau video disana. Dan juga ada beberapa peraturan adat yang harus kita hormati dan jalankan ketika berada disana.
Sekitar jam lima sore kami tiba di pemukiman Suku Baduy Dalam. Pemukiman yang sangat sederhana dengan bangunan-bangunannya yang khas. Kami akan bermalam dikediaman Bapak Nalim. Setelah rapih-rapih saya dan beberapa teman yang lain pergi ke sungai yang berada tidak jauh  untuk mandi.
Sebelum berangkat kami diberitahu agar tidak melewati salah satu rumah, rumah tersebut adalah rumah Kepala Suku atau Kepala adat. Karena sudah mendapat himbauan seperti itu kami harus mematuhinya, meskipun sebenarnya jalan menuju sungai itu tidak melewati rumah tersebut. Sesampainya di sungai, sungai terlihat masih bersih dan tidak nampak limbah atau sampah plastik dan sejenisnya. Sungainya mengalir lancar dan tidak dalam. Mandi disungai itu sangat menyegarkan. Dan seperti yang sudah dijelaskan, kami mandi tidak menggunakan sabun, shampo ataupun odol. Kami sikat gigi, hanya menggunakan sikat saja.
Mandi di alam terbuka. Awalnya perasaan saya cemas karena benar-benar mandi di sungai, di luar ruangan, di alam terbuka dan di atas sungai itu terhubung jembatan bambu dan sering penduduk sana lalu lalang, baik Pria maupun Wanita. Ada perasaan malu tetapi untuk sementara, rasa malu itu disimpan dulu, jarang-jarang kan mandi disungai alaala begini Hehe
            Oh ya, kalau malam katanya di sekitaran sungai ini banyak ditemui kawanan kunang-kunang loh. Hmm, saya akan buktikan nanti malam. Karena seumur-umur saya belum pernah melihat kunang-kunang, serangga yang bisa menyala itu. Hiks, menyedihkan sekali.
                                                                                   ***
Sehabis makan malam, saya mengajak seorang teman untuk melihat kunang-kunang di sungai, lebih tepatnya memaksa sih. Waktu itu sedang gerimis memang, jadi banyak teman-teman yang mager (males gerak). Tetapi dia saya paksa dan akhirnya tetap jalan. Tidak disangka, akhirnya saya bertemu dengan Kunang-Kunang yang dirindukan. Karena salah satu tujuan saya mengunjungi Suku Baduy adalah ingin melihat Si Serangga Menyala itu. Satu persatu serangga muncul. Dari kejauhan sudah terlihat nyalanya. Diatas sungai serangga-serangga tersebut terbang dengan membawa terang. Luar biasa..
Ada yang bilang kalau sedang gerimis Kunang-Kunang tidak banyak datang. Tetapi cukuplah bagi saya melihat beberapa Kunang-Kunang disini. Tidak terlalu banyak memang. Tetapi sudah bisa membuat hati saya senang bukan kepalang. Apalagi ketika satu persatu Kunang-Kunang tersebut melintas dihadapan saya tanpa permisi sebelumnya. Menakjubkan sekali. Saya secara spontan berteriak saking kagumnya. Kawan saya itu hanya meledak saya dan bilang saya gila dan norak. Terserahlah, pikir saya.
Dia boleh bilang seperti itu karena di desanya, disekitaran Jawa Timur masih bisa melihat Kunang-Kunang dan cukup sering melihatnya pada masa Kanak-kanak dulu. Sedangkan saya, tinggal di pinggiran ibu kota yang penuh dengan asap pabrik. Mana pernah saya melihat serangga macam itu secara langsung. Di TV atau Majalah iya pernah.
Rasanya saya ingin bawa pulang tuh Kunang-Kunang. Di masukkan kedalam Toples kaca bening dan biarkan dia menyala didalam sana. Tapi rasanya itu nggak mungkin. Hehe
Padahal saya ingin berlama-lama menikmati para Serangga yang menyala tersebut. Tapi temanku sudah memaksa ingin kembali. Ya sudahlah, saya sudah cukup puas kok.
***
Sehabis shalat isya, kami menggelar Diskusi ringan dengan Kang Mulyono dan Bapak Nalim. mereka akan menjelaskan tentang Suku Baduy dan bagi yang ingin bertanya dipersilahkan. Bapak Nalim tinggal bersama dengan istrinya dan seorang anak perempuannya yang sudah remaja, mungkin sekitar SMP dan juga anak laki-lakinya yang masih balita.
 Warga Suku Baduy, baik Baduy Luar dan Dalam itu tidak mengenyam pendidikan formal seperti sekolah. Begitupun dengan Kang Mul. Untuk Baduy Dalam sendiri, pendidikan itu didapat dari orang Suku Baduy Dalam tersebut, semacam belajar tentang kehidupan sehari-hari disana dari orang dewasa jadi mereka banyak yang tidak bisa membaca dan menulis.
Sedangkan untuk Suku Baduy Luar dia lebih flexible jadi walaupun tidak bersekolah tetapi masih bisa belajar dari luar semacam belajar membaca atau menulis dari pihak luar atau lembaga yang banyak berkunjung. Seperti Kang Mul itu yang masih sangat semangat untuk belajar dan menerima sumbangan buku-buku dari kalian.
Untuk kepercayaan atau keyakinan yang dianut oleh suku Baduy adalah Sunda Wiwitan, mereka sangat menghormati Dewi Sri atau Dewi Padi sebagai lambang kemakmuran atau Rezeki.  Tetapi untuk Baduy Luar mereka sudah banyak menganut agama lain seperti Islam dan Kristen. Untuk Baduy Dalam mereka masih menjunjung tinggi keyakinan mereka.
Dan untuk wisatawan pun dilarang melewati beberapa area yang diyakini sebagai tempat yang disakralkan. Karena pada waktu itu ketika saya dan teman saya hendak pergi buang air disungai, kami tidak sengaja, hampir melewati area tersebut dan buru-buru dicegah oleh Bapak dari Suku Baduy Dalam. Beliau bilang, kalau kami tidak boleh melintasi area tersebut karena itu merupakan area Tuhan. Kami dianjurkan untuk melewati jalan lain. Kami segera meminta maaf  dan pergi ke sungai lewat jalan lain.
Suasana malam di Baduy Dalam benar-benar gelap. Penduduknya hanya menggunakan lampu tempel sebagai alat penerang. Untuk itu senter sangat membantu aktifitas kami ketika keluar hendak buang air atau pun yang lain. Senter masih diperbolehkan kok. Pada saat itu wisatawan lokal yang datang tidak hanya kami. Ada beberapa rombongan yang menginap juga di Baduy Dalam. Oh ya, warga Baduy Dalam juga ada yang berjualan makanan juga dirumahnya ada juga yang menjual aksesoris, kain, ataupun kaos.
***
Pagi harinya, selepas sarapan kami langsung pamit. Dan tidak lupa mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada keluarga Pak Nalim yang ramah dan rela direpotkan oleh kami. Untuk pulang, kami kembali harus Trekking. Dan perjalanan akan memakan waktu sekitar lima jam. Lebih lama dari sebelumnya, karena kami melewati jalur yang berbeda dari sebelumnya. Tetapi semua itu terbayar lunas oleh pemandangan yang disajikan disepanjang jalan. Kami melewati hutan yang rindang, juga ada ladang. Banyak terdapat jembatan bambu disana. Sungai-sungai mengalir dan bersih bebas dari limbah.
Kami juga melihat rumah-rumah adat dan juga lumbung-lumbung padi yang indah yang jarang kami lihat. Kang Mul dan Pak Nalim masih menemani kami menuju pulang. Kami akan singgah dikediaman Kang Mul untuk makan siang dan beristirahat sejenak. Selesai makan siang dan beristirahat kami langsung mengambil foto karena sudah memasuki wilayah Baduy Luar jadi kami diperbolehkan menggunakan Handphone. Disepanjang jalan kami berfoto, banyak object yang bagus dan layak untuk diabadikan. Sungai yang bersih banyak sekali ditemukan disini, Jembatan bambu, rumah-rumah adat. Pohon-pohon yang rindang. Trek yang panjang berliku karena menaiki bukit.
Saya juga melihat deretan pohon Jengkol dan ini pertama kalinya saya melihat pohon Jengkol dan buah Jengkol yang masih bergelantung. Jengkol salah satu makanan yang tersohor dan fenomenal di Jakarta dan sekitarnya. Salah satu makanan favorite saya, bisa nambah saya kalau makan dengan lauk Jengkol hehe.  Walaupun terkenal dengan aroma yang kurang sedapnya, tetapi tetap saja Jengkol itu banyak yang suka.
Saya juga melihat pohon Enau atau Aren. Pohon yang menghasilkan gula aren, minuman Tuak juga buah atep atau kolang-kaling. Pohonnya yang besar biasa disebut dengan Mayang terurai karena jika berbuah pohon tersebut menjuntai seperti rantai dan banyak buahnya seperti mayang terurai. Ini juga pertama kalinya saya melihat pohon tersebut. Seperti biasa, saya hanya pernah lihat pohon itu di TV. Dan kolang-kaling merupakan makanan favorite saya, apalagi pas Ramadhan dan Lebaran. Sebagai campuran Kolak, Es Campur atau pun Manisan. Hmm... yummy.
***
Sekitar jam satu siang kami sampai di Desa Ciboleger. Desa yang merupakan pintu gerbang menuju Pemukiman Suku Baduy. Setelah bersih-bersih kami langsung bergegas pulang menuju Terminal Ciboleger menuju Stasiun Rangkas Bitung dan kembali ke Jakarta.
Banyak pelajaran yang saya dapat dari perjalanan saya kali ini. kesederhanaan adalah kuncinya. Raut wajah bahagia jelas terpancar dari mereka. Kecintaan pada alam dengan merawat dan menjaganya sebaik mungkin membuat saya berpikir dan malu.
Mereka yang tidak mengenyam pendidikan di sekolah lebih memahami bagaimana menjaga alam. Menjaga keseimbangan ekosistem. Menjaga apa yang harus dijaga, Merawat pemberian Tuhan dengan sebaik mungkin. Sangat berbanding terbalik dengan kami. Kami yang tinggal di kota. Kesadaran akan merawat alam, lingkungan masih kurang.
Semoga perjalanan ini akan membuat saya menjadi pribadi yang lebih peduli lagi terhadap lingkungan dan alam sekitar.



26 komentar:

  1. Oh plngnya lwt Ciboleger. Trek dahsyat kalau lwt sini..

    Wkt berangkat lwt danau gk? Kalau lwt danau lbh dkt

    BalasHapus
  2. lewat Ciboleger lumayan jauh Kak, tapi pemandangannya lumayan bagus hehe
    kayaknya saya gak lihat Danau Ka' treknya lebih dekat, tapi lupa namanya 😥😅

    BalasHapus
  3. Informatif kak beni tulisannya..
    Jadi kangen ke sana lagi...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Kak Tuti.. Saya juga masih kepingin kesana. Cari waktu yg pas dulu.

      Hapus
  4. Penasaran sama suku baduy, di dekat jakarta ternyata masih ada ya suku yang bisa menjalani keseharianya tanpa teknologi. Dan yang keren mereka mencintai alam. Salut!


    Btw, fotonya kok gak ada kak? Padahal penasaran banget dengan keindahan alamnya :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener Kak. Mereka hebat, masih bisa konsisten dengan adat istiadatnya.

      Iya Kak, saya buru-buru ngerjainnya jdi lupa kasih foto-fotonya. hehe

      Hapus
  5. Ceritanya lengkap banget kak, informatif. Ngebayangin tanpa listrik dan hp apa jadinya yaa.. sepi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih Kak Annisa. Kapan-kapan boleh kesana lagi kak bareng2 Kubbu juga seru. 😊

      Hapus
  6. Duuuh aku aabtu ini baru mau berkunjungke baduy kaaa. Semoga semenyenangkan ini yaaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah serunya Cha..
      Siap-siap bawa mantel. musim ujan dan licin nanti treknya.
      👍😁

      Hapus
  7. pengalamanku ke Baduy Dalam sempet didengerin suara Miss "K" waktu ke kali malam-malam :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah... serunya..
      lokasinya kayak di Filn yg judulnya Hantu. lokasi kalinya.

      Hapus
  8. Ka beni tambahin photo2nya ka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Ka Ida. Saya akan tambahanin 😅👍

      Hapus
  9. Waah baca ini jadi tambah pengen ke Baduy Dalam.. Makasih infonya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bakal banyak belajar disana Ka.. 😊

      Hapus
  10. kalian mah udah ke baduy akumah cuma ngebayangin doang.. btw tks bang ben.. aku jadi pengin menjajakan kaki di suku ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Bang Andi udah sempetin main ke blog saya. Semoga bisa kesana Bang. Saya malah kepingin kesana lagi.
      hehe

      Hapus
  11. Duh....saya selalu ingin ke Baduy. Tapi belum ada jodoh waktu dan kesempatan untuk pergi ke sana. Padahal tidak terlalu jauh kalau dari rumah orang tua saya.

    Terima kasih sudah berbagi cerita Mas Beni :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mas Adi udah nyempetin main ke blog saya.
      Boleh tuh kesana bareng Mas. Itung-itung belajar ngeblog dan ngeliput hehe

      Hapus
  12. selalu kepengen ke baduy, tp gak ada temennya #ea

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya mau kesana lagi kak Oki. Kuy lah bareng...
      Eaa...

      Hapus
  13. baca tulisannya kak beni bikin kangen baduy :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Kak Lisa sudah mampir ke blog saya. Saya juga mau kesana lagi. Karena waktu itu hujan, jd kurang berasa hehe

      Hapus
  14. Inspiratif sekali ben ceritanya... penasaran sih pengen ke baduy, mau liat kunang2 juga 😆~~ bahasanya keren ya di akhir cerita nyelipin kata2 persuasif untuk jaga lingkungan... di tunggu blog berikutnya 😂

    BalasHapus
  15. Hmmm. Revisi dari bena.

    Terlalu panjang ya, banyak hal yang tidak begitu penting di ceritakan di sini. Mungkin akan lebih baik di minimalisir kata dan kalimatnya.
    Semangat terus!
    Saya masih sering komunikasi sama warga baduy

    BalasHapus