Jumat, 14 Agustus 2015

Apartement




Wanita itu berjalan tergesa menuju apartement. Ia merasa seperti ada seseorang yang membuntutinya. Sudah jam dua belas malam lewat. Kondisi parkiran dan area sekitar apartement nampak lengang. Wanita itu terus mempercepat langkahnya. Sesampainya di lift ia segera memencet angka menuju lantai dua satu. Apartemen sewaan yang baru tiga bulan ia tinggali seorang diri. Karena sering pulang malam, membuat ia harus menyewa apartement dekat kantor. Tidak lama, liftnya berhenti, segera ia menuju kamarnya.
Di lorong menuju kamar apartemenya, ia mendengar derat langkah. Ia pun mempercepat jalannya menuju kamar dan menguncinya. Ketakutannya mulai lepas.  Ia berjalan menuju pintu balkon, membiarkan semilir angin malam masuk ke kamarnya. Pemandangan kota J sangat indah bila di lihat malam hari dari kamar ini.  Segera ia menanggalkan pakaian kerjanya, berhandukan dan menuju ke kamar mandi.
***
Dalam keadaan masih berhanduk, wanita itu keluar dari kamar mandi. Dan betapa terkejutnya ia melihat sesosok pria berdiri di balkon menghadap ke arahnya.
“Sudah selesai, bisa kita mulai..” Tanya pria itu, memamerkan senyum dinginnya.
“Siapa kamu?” Wanita itu terbata. Pria itu bergerak dan mulai berjalan ke arahnya. Wanita itu segera berlari menuju pintu. Sial, pintu terkunci. Wanita itu berteriak sejadinya. Pria itu mengejarnya. Wanita cantik bertubuh sedang itu terpojok dan terpaksa melawan dengan melemparkan vas bunga yang berada di dekatnya. Semua seolah percuma. Perempuan itu terus melawan, menendang bagian vital pria itu. Dia mengerang, wanita itu berlari ke arah balkon berteriak mencari pertolongan. Pria berpakain serba hitam itu dengan cepat mendekat, mendekap mulutnya dan menggendongnya ke kamar, melemparnya ke tempat tidur. Pria bertubuh tinggi besar itu menarik handuknya, mencoba menikmati tubuh wanita itu. Perlawanan yang dilakukan wanita itu tak berarti. Mulut wanita yang sudah tidak berdaya itu di dekap bantal agar tidak menimbulkan suara gaduh. Beberapa pukulan yang di terima wanita tersebut membuatnya tambah tak berdaya. Pria itu melepaskan pakaian yang melekat di badannya dan dengan rakus menikmati harumnya tubuh wanita berusia dua puluh lima tahun itu.
Setelah puas menikmati setiap inchi bagian tubuh wanita tersebut, pria itu memukulinya hingga setengah pingsan dan menggendongnya ke arah balkon. Pria itu berdiri di pinggiran balkon, tempaan angin malam tak membuatnya gentar. Tanpa pikir panjang, tubuh wanita muda tanpa busana itu dilepaskan dari gendonganya.
Segera ia mengenakan pakaian dan pergi.

Empat Hari untuk Selamanya (Part III)

(Kemanapun Kaki Kita Melangkah, Pulang Jualah Tetap Tujuan Utama Kita) Perjalanan kami masih berlanjut ke negara berikutn...