Sabtu, 10 Agustus 2013

Cermin (Cerita Mini)



Merobek Sama Dengan Membeli


            Setelah mereka menitipkan tasnya, Abdul langsung ngeloyor pergi begitu saja meninggalkan sahabatnya yang masih dibelakang ke tempat majalah-majalah setelah memasuki sebuah toko buku terkenal, Toko Buku Gunung Galunggung. Mengambil sebuah majalah remaja Ahnekat Yess, melirik kakanan kekiri memastikan tak ada penjaganya. Setelah diperkirakan aman terkendali, Abdul langsung merobek plastik pembungkusnya dengan semangat dan hati yang berdebar – debar serta diiringi senyum percaya dirinya. Menyelipkan bungkus plastic tersebut di belakang majalah-majalah lain yang tertata rapih.
***

Gus,  nama gua kok nggak ada ya ?” Abdul memegang sebuah majalah dengan wajah heran sambil membolak-balik majalah mencari namanya.
“coba liat dul!” pinta Bagus sambil mengambil majalah yang diberikan ke Abdul.  Bagus melihat-lihat daftar nama dan ternyata memang nggak ada nama Abdul  Rozak dalam daftar pemenang undian liburan ke jepang untuk dua orang itu.
“ Kayaknya, nama lu nggak ada dul!?”
“ Coba sini majalahnya !” Abdul mengambil kembali majalah itu dari Bagus, menerawang daftar pemenang undian dengan seksama.
 Tidak ada nama Abdul Rozak tertulis di majalah tersebut sebagai pemenang undian itu. Abdul mengumpat dengan suara yang agak keras yang berakibat beberapa pengunjung toko buku  mengalihkan perhatiannya ke arah mereka, dua remaja yang masih memakai seragam putih-abu-abu. Abdul terdiam, sabtu sore ini pengunjung toko buku lumayan ramai. Bagus mencoba menenangkannya. Abdul mengikuti undian SMS berhadiah liburan ke jepang untuk dua orang yang diadakan oleh Joe-Rocks, salah satu grup band Indonesia yang beraliran jepang-jepangan yang sedang naik daun. Sudah banyak  pulsa yang dikeluarkan untuk mengikuti undian SMS tersebut dan itu membuat Abdul tidak  jajan selama sebulan. Dan ternyata dia tidak menang. Abdul nampak kelihatan kecewa dan agak stress ringan.
“ sabar dul, jangan nyerah, lu bisa nyoba ikut undian lagi nanti!”
Abdul masih terdiam, tak terpecaya dengan semua ini. Tak lama kemudian Abdul menyunggingkan senyuman, tersadar ,seakan telah terbangun dari lamunanya. Aura semangat dan kebangkitan terpancar dari dirinya.
“ yup, gua harus semangat, masak cuma kaya gini gua nyerah, kalo nyerah dan nggak tahan banting bukan Abdul Rozak namanya, betul nggak sob?!”
 Abdul menengok ke arah sahabatnya itu sambil memukulkan majalah yang di gulung ke bahu Bagus. Bagus mengelus-ngelus bahunya bekas di pukul sambil tersenyum kearahnya.
“Oke deh, sekarang kita pulang yuk, dah sore nih?”  Abdul meletakkan majalahnya dengan tenang ketempat semula.
“kok ditaruh lagi majalahnya ?”
Dengan santainya dan nggak merasa bersalah Abdul menjawab, “ emangnya kenapa? kalo gua menang gua beli tuh majalah tapi karena gua kalah, ngapain juga gua beli, lagian majalahnya mahal, duit gua tinggal buat ongkos doang nih.” Tiba-tiba Abdul menunjukkan senyum anehnya kearah Bagus sambil berkata,
“mumpung penjaganya lagi nggak ada, kita cabut aja yuk?”  Abdul menarik tangan  Bagus menuju tempat penitipan barang lalu  keluar dari toko buku. Bagus merasa tidak enak atas perbuatan kriminal ringan sahabatnya. Karena jelas-jelas tertempel stiker di rak tempat majalah-majalah yang bertuliskan  “merobek plastik sama dengan membeli”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar